Menikmati Pagi di Sekitar Borobudur: Cerita dari Sunrise Punthuk Setumbu dan Kedai Bukit Rhema

0
18
sunrise-punthuk-setumbu
Sunrise Punthuk Setumbu

Suara alarm pukul empat pagi biasanya jadi musuh paling menyebalkan saat sedang liburan. Tapi khusus di Magelang, rasanya ada dorongan berbeda yang bikin saya rela beranjak dari kasur meski udara sedang dingin-dinginnya. Ada sesuatu tentang suasana fajar di dekat Borobudur yang selalu membuat saya rindu untuk kembali. Pagi itu, saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam candi, melainkan sunrise di Puthuk Setumbu lalu sarapan di Kedai Bukit Rhema, dari sebuah sudut yang sering disebut orang sebagai tempat melihat matahari terbit yang tenang.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalanan desa yang masih sangat sepi. Hanya ada satu dua lampu teras rumah warga yang menyala, dan aroma tanah basah sisa hujan semalam masih tercium cukup kuat. Saya memacu kendaraan pelan-pelan, membiarkan angin pagi menyentuh wajah, sambil membayangkan sunrise Punthuk Setumbu yang pemandangannya indah, udaranya yang sejuk dan lingkungannya yang asri.

Baca juga: Cafe Playground Di Borobudur

Memulai Langkah di Jalur Punthuk Setumbu – Sunrise Puthuk Setumbu

Sesampainya di area parkir Punthuk Setumbu, suasana sudah mulai sedikit hidup. Beberapa pendaki lain dan wisatawan sudah bersiap dengan jaket tebal mereka. Setelah membayar tiket masuk, saya mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang menanjak. Medannya sebenarnya tidak terlalu berat, hanya berupa tangga-tangga tanah dan beton yang sudah tertata, tapi kalau kamu jarang olahraga seperti saya, cukup membuat napas sedikit tersengal.

Trekking ringan ini memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit. Di sepanjang jalan, saya sesekali berpapasan dengan warga lokal yang ramah menyapa. Hutan kecil di kanan kiri jalan masih terasa asri, memberikan suara-suara serangga malam yang mulai berganti dengan kicauan burung pagi. Tidak perlu terburu-buru, karena justru proses menuju puncak inilah yang membuat pengalaman menikmati sunrise jadi terasa lebih bermakna.

Momen Menunggu Cahaya Muncul – Sunrise Borobudur Terbaik

Sunrise Punthuuk Setumbu
Sunrise Punthuk Setumbu

Begitu sampai di dek pengamatan, saya segera mencari posisi yang nyaman. Di kejauhan, siluet Candi Borobudur mulai terlihat samar di antara kabut tebal yang menyelimuti lembah. Gunung Merapi dan Merbabu berdiri gagah di latar belakang, memberikan komposisi pemandangan yang menurut saya sangat menenangkan. Tidak ada hiruk pikuk suara kendaraan, hanya ada suara angin dan gumaman pelan dari orang-orang di sekitar yang sama-sama sedang menunggu keajaiban pagi.

Momen yang paling saya sukai adalah saat garis cahaya kuning kemerahan mulai muncul di ufuk timur. Perlahan tapi pasti, kegelapan mulai tersingkap. Borobudur yang tadinya hanya berupa gumpalan hitam, perlahan memperlihatkan bentuk stupa-stupanya yang ikonik di tengah lautan kabut. Rasanya seperti melihat lukisan yang sedang diselesaikan oleh alam tepat di depan mata saya. Di saat seperti ini, saya sering lupa untuk mengambil foto karena terlalu asyik menikmati suasananya secara langsung.

Artikel Rekomendasi  Tempat Nongkrong di Magelang dengan View yang Bikin Meleleh.

Berjalan Turun Menuju Sisi Lain Bukit

Setelah matahari sudah cukup tinggi dan suhu udara mulai menghangat, saya memutuskan untuk turun. Perjalanan turun tentu jauh lebih ringan, dan pemandangan yang tadi gelap kini terlihat jelas. Kebun-kebun warga, pohon-pohon besar, dan rumah-rumah panggung di kejauhan tampak begitu damai. Saya sempat berhenti sejenak di beberapa titik hanya untuk mengambil napas dalam-dalam, menghirup oksigen yang rasanya masih sangat murni.

Namun, petualangan pagi ini belum benar-benar berakhir. Perut yang mulai keroncongan mengingatkan saya bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mencari sarapan. Saya tidak ingin langsung kembali ke penginapan. Saya teringat ada satu tempat yang jaraknya tidak jauh dari sini, yang menawarkan kombinasi antara kopi hangat dan pemandangan yang tidak kalah menarik dari yang baru saja saya lihat.

Menghangatkan Diri di Kedai Bukit Rhema – Sarapan Dekat Borobudur

Sunrise Punthuk Setumbu
Kedai Bukit Rhema

Hanya butuh waktu singkat untuk berpindah lokasi ke arah Bukit Rhema, atau yang lebih dikenal banyak orang sebagai Gereja Ayam. Di bagian belakang bangunan unik ini, terdapat sebuah kedai yang menjadi favorit saya. Namanya Kedai Bukit Rhema. Begitu masuk, saya langsung disambut dengan aroma kopi yang baru diseduh, sebuah aroma yang selalu berhasil meningkatkan suasana hati di pagi hari.

Saya memilih meja yang menghadap langsung ke arah lembah. Dari sini, saya masih bisa melihat sisa-sisa kabut yang mulai menipis di kejauhan. Menu yang saya pesan cukup sederhana: secangkir kopi hitam panas dan seporsi singkong goreng khas mereka yang disajikan dengan sambal tradisonal. Ada sesuatu yang sangat pas tentang perpaduan kopi pahit dan rasa manis gurih dari singkong rebus yang kemudian digoreng garing ini.

Kenikmatan Sederhana dalam Sepiring Singkong

Singkong yang mereka sajikan punya tekstur yang sangat empuk di dalam tapi tetap krispi di luar. Penduduk lokal sering menyebutnya dengan nama Latela Gula Tumbu. Menikmati camilan tradisional ini sambil melihat pemandangan hijau di depan mata adalah cara terbaik untuk menutup rangkaian perjalanan pagi. Kamu tidak butuh menu mewah untuk merasa bahagia, terkadang cukup dengan suasana yang tepat dan teman ngobrol yang asyik, atau bahkan hanya dengan pikiranmu sendiri.

Di kedai ini, saya menghabiskan waktu cukup lama. Memperhatikan bagaimana sinar matahari mulai menyentuh dahan-dahan pohon dan mendengarkan suara hutan yang mulai ramai. Rasanya waktu berjalan lebih lambat di sini, memberikan ruang bagi saya untuk sejenak melupakan daftar pekerjaan yang biasanya menanti di kota besar.

Menyimpan Memori Pagi di Magelang – Wisata Magelang Pagi Hari

Perjalanan singkat dari Punthuk Setumbu ke Kedai Bukit Rhema ini memberikan perspektif baru bagi saya tentang bagaimana cara menikmati Borobudur. Kita tidak selalu harus berada di dalam kompleks candi untuk merasakan kemegahannya. Melihatnya dari kejauhan, dikelilingi oleh alam dan kesederhanaan hidup warga sekitarnya, justru memberikan kedamaian yang berbeda.

Jika kamu berencana ke sini, saran saya jangan terlalu terburu-buru ingin pindah ke destinasi berikutnya. Berikan waktu bagi dirimu sendiri untuk benar-benar hadir di sana. Nikmati setiap tanjakan saat trekking, rasakan dinginnya kabut yang menyentuh kulit, dan habiskan kopi kamu perlahan-lahan. Magelang punya caranya sendiri untuk menyembuhkan rasa lelah, dan pagi di perbukitan Menoreh adalah salah satu obat terbaik yang pernah saya temukan.