Magelang sering kali diidentikkan dengan kemegahan Candi Borobudur yang mendunia. Namun, jika kita bersedia sedikit mendaki ke arah Perbukitan Menoreh, tepatnya di area “Gereja Ayam” yang ikonik, kita akan menemukan sebuah narasi yang lebih dari sekadar pemandangan indah. Ini adalah sebuah kisah inspiratif Magelang tentang bagaimana sebuah unit usaha kuliner mampu menjadi napas bagi ekonomi desa di sekitarnya.
Kedai Bukit Rhema bukan hanya sebuah titik singgah bagi wisatawan yang haus setelah mendaki. Di balik aroma kopi dan gurihnya singkong goreng, terdapat ekosistem sosial yang dibangun dengan keringat, edukasi, dan komitmen jangka panjang untuk mengangkat harkat hidup warga lokal.
Apa Kedai Bukit Rhema Sebenarnya?
Secara fungsional, Kedai Bukit Rhema adalah fasilitas kuliner yang terletak di kawasan wisata Bukit Rhema (Gereja Ayam). Namun, secara filosofis, tempat ini adalah jembatan antara potensi alam Magelang dengan kesejahteraan masyarakatnya.
Sebagai tempat makan dekat Candi Borobudur yang paling direkomendasikan, Kedai Bukit Rhema menawarkan pengalaman makan di atas awan. Pengunjung bisa menikmati hidangan tradisional sambil memandang hamparan lembah dan siluet pegunungan. Namun, keunikan kedai ini tidak hanya terletak pada lokasinya yang spektakuler, melainkan pada komitmennya untuk menyajikan “rasa lokal” yang diproduksi langsung oleh tangan-tangan warga desa sekitar.
Baca Juga : Cafe di Borobudur
Menginisiasi Pemberdayaan Masyarakat Sejak 2017
Perjalanan Kedai Bukit Rhema untuk menjadi salah satu pilar kuliner Magelang tidak terjadi dalam semalam. Semuanya dimulai pada tahun 2017 di bawah visi sang founder, Denmas Setia Wenas.
Saat itu, Denmas melihat sebuah kontradiksi yang nyata. Di satu sisi, potensi wisata Bukit Rhema meledak pesat, terutama setelah menjadi lokasi syuting film nasional. Namun di sisi lain, keterlibatan masyarakat lokal dalam industri wisata tersebut masih sangat rendah.
Denmas mengidentifikasi adanya gap knowledge atau kesenjangan pengetahuan. Masyarakat lokal memiliki bahan baku yang melimpah dan kemauan untuk bekerja, namun mereka tidak memiliki pemahaman tentang standar industri wisata global dan bagaimana menciptakan sebuah experience (pengalaman) yang diinginkan wisatawan. Inilah yang menggerakkan Kedai Bukit Rhema untuk tidak sekadar mempekerjakan warga, tetapi “mendidik” mereka menjadi bagian dari rantai industri yang profesional.
Edukasi Produksi Singkong Goreng Keju: Dari 3 Orang Menjadi Kekuatan Desa
Salah satu komoditas utama yang ada di sekitar Bukit Rhema adalah singkong. Selama bertahun-tahun, singkong hanya dipandang sebagai komoditas murah yang dijual mentah ke pasar dengan harga rendah. Melihat hal ini, Kedai Bukit Rhema memulai sebuah inisiatif berani: Edukasi Produksi Singkong Goreng Keju.

Inisiatif ini dimulai dengan sebuah seminar yang mengundang warga desa sekitar. Dari 35 warga yang hadir di awal, kenyataan pahit sempat menyapa; hanya 3 orang yang memiliki komitmen kuat untuk melanjutkan pelatihan dan mengikuti standar kualitas yang ketat.
Namun, keteguhan hati yang kecil itu berbuah manis. Denmas dan tim tidak menyerah. Sejak tahun 2017 hingga kini, tim produksi singkong ini telah bertumbuh pesat menjadi lebih dari 16 orang yang bekerja secara reguler. Transformasi ini sangat masif:
- Keterlibatan PKK: Ibu-ibu rumah tangga kini memiliki penghasilan tambahan yang signifikan tanpa harus meninggalkan desa.
- Petani Lokal: Para petani singkong di sekitar lokasi kini memiliki pembeli tetap (Kedai Bukit Rhema) yang menghargai hasil panen mereka dengan harga yang lebih adil dan stabil.
Kini, Singkong Keju Bukit Rhema bukan sekadar camilan; ia adalah simbol keberhasilan pemberdayaan ekonomi yang menjadi daya tarik utama kuliner Magelang.
Kerjasama Strategis dengan Instansi Pendidikan
Pemberdayaan yang dilakukan Kedai Bukit Rhema tidak dilakukan secara amatir. Untuk menutup gap knowledge yang ada, pada tahun 2017 Denmas menggandeng Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Kerjasama ini membawa dampak transformasional. Pihak kampus mengirimkan lebih dari 30 mahasiswa untuk melakukan pendampingan langsung kepada warga. Para mahasiswa dan akademisi ini membantu menyusun standar operasional prosedur (SOP), menjaga kualitas sanitasi, hingga teknik produksi yang efisien namun tetap higienis.
Langkah ini membuktikan bahwa Kedai Bukit Rhema sangat serius dalam membangun ekosistem wisata yang berkelanjutan. Masyarakat desa tidak lagi dianggap sebagai penonton, melainkan pelaku industri yang memiliki standar kerja profesional setara dengan hotel atau restoran besar di kota.
Meningkatkan Perekonomian Melalui Siklus Produksi Mandiri
Kunci dari keberhasilan kisah inspiratif Magelang di Kedai Bukit Rhema adalah siklus ekonomi tertutup yang mereka ciptakan. Produk-produk kuliner yang disajikan di meja pelanggan adalah hasil dari rantai produksi lokal:

- Bahan baku dibeli dari petani lokal.
- Diolah oleh tenaga kerja lokal (Tim PKK dan pemuda desa).
- Disajikan dan dipasarkan melalui Kedai Bukit Rhema.
Dengan model ini, perputaran uang tetap berada di dalam lingkungan desa tersebut. Dampaknya sangat terasa pada peningkatan daya beli masyarakat sekitar dan berkurangnya angka pengangguran di usia produktif desa. Kedai Bukit Rhema telah membuktikan bahwa sektor pariwisata bisa menjadi alat pengentas kemiskinan jika dikelola dengan hati dan visi pemberdayaan.
Kisah di Balik Tempat Makan Dekat Candi Borobudur yang Inspiratif
Hari ini, Kedai Bukit Rhema telah berevolusi. Ia bukan lagi sekadar warung kopi, melainkan destinasi multi-experience yang eksis dan dicintai wisatawan. Keberadaannya memberikan warna baru bagi wajah kuliner Magelang.

Bagi wisatawan atau perusahaan yang mencari pengalaman berbeda, Kedai Bukit Rhema kini telah memantapkan posisinya sebagai:
- Tempat Meeting yang Unik: Menyediakan suasana rapat di ruang terbuka dengan udara segar, jauh dari kebisingan kota.
- Destinasi Gathering & Outing: Tempat luas yang mampu menampung rombongan besar dengan pelayanan yang hangat.
- Edukasi Membatik: Sebuah pengalaman culture-trip di mana pengunjung (termasuk anak-anak) bisa belajar membatik langsung di lokasi.
- Tempat Outbound: Memanfaatkan kontur perbukitan untuk kegiatan luar ruangan yang membangun kerjasama tim.
Setiap tamu yang datang dan makan di sini secara tidak langsung telah berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan ekonomi puluhan kepala keluarga di desa sekitar Bukit Rhema. Ini adalah bentuk wisata yang bertanggung jawab (responsible tourism).
Mari Menjadi Bagian dari Perubahan
Melihat transformasi dari hanya 3 orang yang berkomitmen hingga menjadi sebuah ekosistem besar yang menghidupkan ekonomi lokal, Kedai Bukit Rhema adalah bukti nyata bahwa pariwisata adalah tentang manusia, bukan sekadar benda mati atau pemandangan alam.
Jika Anda berencana berkunjung ke kawasan Borobudur, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kehangatan layanan dan kelezatan menu di Kedai Bukit Rhema. Anda tidak hanya akan pulang dengan perut kenyang dan foto-foto indah, tetapi juga dengan rasa bangga karena telah mendukung pemberdayaan masyarakat lokal Magelang.
Informasi Reservasi:
Untuk memastikan Anda mendapatkan tempat terbaik atau ingin merencanakan acara rombongan (Meeting, Outbound, atau Outing), Anda dapat menghubungi admin resmi kami:
- Kontak: 085725779520
- PIC: An Dinda (Admin Kedai Bukit Rhema)
Datang Yuk ke Kedai Bukit Rhema, dan rasakan sendiri bagaimana senyum di atas bukit ini tercipta dari sebuah kemandirian ekonomi yang inspiratif.

[…] Baca Juga : Kisah Inspiratif Kedai Bukit Rhema Menghidupkan Ekonomi Lokal […]
Comments are closed.