Halo teman-teman! Pernah nggak sih kamu merasa ingin keluar dari rutinitas wisata biasa di Borobudur? Kalau cuma foto-foto di candi terus pulang, kayaknya kurang lengkap ya. Nah, beberapa waktu lalu saya mencoba pengalaman yang cukup berbeda: sepeda keliling desa wisata di sekitar Borobudur. Dan yang bikin seru, aktivitas ini dimulai tepat setelah menikmati sunrise di Gereja Ayam yang legendaris itu!
Kenapa Pilih Sepeda Keliling Desa?
Sebenarnya, ide sepeda keliling desa ini muncul karena saya pengin melihat sisi lain Borobudur yang mungkin sering terlewatkan. Kita semua tahu Borobudur itu candi megah, tapi desa-desa di sekitarnya punya cerita dan kehidupan yang tak kalah menarik. Dengan sepeda, kita bisa masuk ke jalan-jalan kecil, berinteraksi dengan warga lokal, dan merasakan atmosfer pedesaan yang autentik.
Yang menarik, paket ini saya dapatkan dari Kedai Bukit Rhema. Lokasinya strategis banget, dekat dengan Gereja Ayam, jadi pas banget untuk kombinasi sunrise viewing dan tur sepeda pagi hari. Harganya mulai dari Rp 250.000 per orang, dan sudah include banyak hal yang bakal saya ceritakan nanti.
Persiapan Sebelum Berangkat
Saya booking paket ini sehari sebelumnya via WhatsApp di 085725779520. Tim Kedai Bukit Rhema responsif banget, kasih detail lengkap tentang meeting point dan apa yang perlu dipersiapkan. Mereka menyarankan untuk pakai baju yang nyaman, sepatu olahraga, dan bawa sunscreen karena kita akan berada di luar ruangan cukup lama.
Meeting time-nya jam 6 pagi di Kedai Bukit Rhema. Kenapa pagi banget? Karena kita akan menonton sunrise di Gereja Ayam dulu sebelum mulai bersepeda. Menurut saya, timing ini perfect banget—udara masih sejuk, sinar matahari pagi lembut, dan suasana desa baru bangun tidur.
Momen Magis Sunrise di Gereja Ayam
Gereja Ayam atau yang biasa disebut Bukit Rhema ini memang punya daya tarik sendiri. Bangunannya yang unik berbentuk burung merpati (bukan ayam, ya!) sudah jadi ikon Magelang. Tapi yang bikin spesial adalah view sunrise-nya.
Dari puncak bukit, kita bisa melihat matahari terbit perlahan dari balik pegunungan. Cahaya keemasan menyapu landscape perdesaan, sawah-sawah berteras, dan tentu saja, silhouette Candi Borobudur di kejauhan. Saya nggak berani bilang ini sunrise terbaik di Indonesia, tapi pasti masuk kategori yang memorable banget.
Setelah puas menikmati sunrise dan foto-foto, kita turun kembali ke Kedai Bukit Rhema untuk sarapan sebelum mulai bersepeda.
Sarapan dengan Cita Rasa Lokal
Nah, ini bagian yang saya tunggu-tunggu! Paket sepeda dari Kedai Bukit Rhema sudah include sarapan. Menu yang disajikan sederhana tapi penuh cita rasa khas Jawa. Ada nasi liwet dengan lauk-pauk tradisional, sambal yang bikin nagih, dan tentu saja, teh atau kopi hangat.
Yang bikin sarapan ini spesial adalah suasana dan lokasinya. Kita makan di teras kedai yang menghadap ke pemandangan desa dan perbukitan. Udara pagi yang masih segar bikin makan pagi terasa lebih nikmat. Sambil sarapan, pemandu kita, Mas Agus, mulai cerita tentang rute sepeda yang akan kita tempuh.
Memulai Petualangan Bersepeda
Setelah perut kenyang dan energi terisi, kita mulai bersiap-siap. Sepeda yang disediakan kondisi bagus semua—MTB dengan rem dan gear yang berfungsi baik. Mereka juga menyediakan helm untuk keamanan. Saya perhatikan, tim Kedai Bukit Rhema benar-benar memperhatikan safety peserta.
Rute yang kita tempuh sekitar 15-20 km dengan tingkat kesulitan easy to moderate. Cocok banget untuk pemula seperti saya yang jarang bersepeda. Jalannya mostly flat dengan sedikit tanjakan dan turunan ringan. Yang penting, kita nggak perlu khawatir tersesat karena ada pemandu yang menemani dari depan dan belakang.
Menjelajahi Desa-Desa Sekitar Borobudur
Ini dia inti dari pengalaman sepeda keliling desa! Kita melewati beberapa desa yang punya karakter berbeda-beda:
Desa Wanurejo: Desa ini terkenal dengan kerajinan batik dan ukiran kayunya. Kita sempat mampir ke salah satu workshop kecil. Melihat langsung proses pembuatan batik dan ukiran kayu bikin saya lebih menghargai karya seni tradisional ini.
Desa Karangrejo: Di sini kita melihat kehidupan petani secara langsung. Sawah-sawah terasering yang indah, petani sedang menggarap ladang, dan anak-anak desa bermain dengan riang. Mas Agus, pemandu kita, menjelaskan tentang sistem pertanian tradisional yang masih dipertahankan.
Desa Borobudur: Meski namanya sama dengan candi, desa ini punya kehidupan sendiri. Kita melewati pasar tradisional pagi hari yang ramai, warung-warung kecil, dan rumah-rumah warga dengan arsitektur khas Jawa.
Interaksi dengan Warga Lokal
Salah satu hal yang paling berkesan dari tur ini adalah kesempatan berinteraksi dengan warga lokal. Mereka ramah-ramah banget! Setiap kita lewat, selalu ada yang menyapa atau tersenyum. Beberapa anak kecil bahkan ikut bersepeda sebentar bersama kita.
Di satu titik, kita berhenti di warung kecil untuk minum jamu. Yes, minum jamu juga termasuk dalam paket! Jamu tradisional yang disajikan segar banget, dibuat dari rempah-rempah lokal. Rasanya… well, typical jamu—pahit tapi menyehatkan! Tapi tenang, mereka juga menyediakan air mineral untuk yang nggak kuat dengan rasa jamu.
Snack Time di Tengah Perjalanan
Setelah bersepeda sekitar satu setengah jam, kita berhenti di spot yang cukup teduh untuk istirahat dan snack time. Snack yang disediakan simple tapi cukup mengenyangkan—pisang goreng dan teh manis hangat. Sambil menikmati snack, Mas Agus berbagi cerita tentang sejarah desa-desa yang kita lewati dan hubungannya dengan Candi Borobudur.

Momen istirahat ini juga jadi kesempatan bagus untuk ngobrol dengan peserta lain. Dalam grup saya ada pasangan dari Jakarta, keluarga dengan dua anak remaja, dan seorang traveler solo dari Belanda. Seru banget bisa sharing pengalaman selama perjalanan.
Dokumentasi Perjalanan
Nah, buat kamu yang suka dokumentasi, paket ini sudah include foto dan video! Ada fotografer yang ikut dalam perjalanan untuk mengabadikan momen-momen spesial. Mereka nggak cuma foto candid, tapi juga bantu pose-pose yang bagus dengan background yang menarik.
Yang saya apresiasi, mereka nggak maksa-maksa untuk foto. Cukup natural aja. Hasil fotonya dikirim via Google Drive beberapa hari setelah trip. Kualitasnya bagus, dan jumlahnya cukup banyak—lebih dari 50 foto untuk perjalanan 3-4 jam.
Kembali ke Base Camp
Perjalanan kita akhiri sekitar jam 10-11 pagi, kembali ke Kedai Bukit Rhema. Rasanya lega sekaligus senang. Kaki mungkin agak pegal (wajar lah, jarang olahraga), tapi puas banget dengan pengalaman yang didapat.
Sampai di kedai, kita disuguhi air mineral dingin—setelah bersepeda di bawah matahari pagi, minuman dingin terasa seperti surga! Kita punya waktu untuk bersantai sebentar, mandi (fasilitas mandi tersedia), atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan sebelum pulang.
Value for Money?
Nah, pertanyaan penting: worth it nggak sih bayar Rp 250.000 untuk pengalaman ini? Menurut saya, cukup worth it mengingat apa yang didapat:
- Sepeda dalam kondisi baik
- Pemandu yang knowledgeable dan ramah
- Sarapan tradisional yang enak
- Minum jamu dan snack
- Air mineral selama perjalanan
- Dokumentasi foto dan video
- Pengalaman melihat desa dari perspektif berbeda
Kalau dibandingkan dengan harga tiket masuk Borobudur yang sekitar Rp 50.000 untuk wisatawan domestik, memang lebih mahal. Tapi experience yang didapat benar-benar berbeda. Ini bukan sekadar melihat monumen, tapi mengalami kehidupan lokal secara langsung.
Tips untuk Kamu yang Mau Mencoba
Berdasarkan pengalaman saya, ini beberapa tips yang mungkin berguna:
- Booking sebelumnya: Lebih baik booking via WhatsApp sehari sebelumnya untuk memastikan ada slot
- Pakai baju nyaman: Kaos dan celana pendek atau training pants paling ideal
- Bawa sunscreen: Meski pagi, matahari Jawa Tengah bisa cukup terik
- Pakai sepatu tertutup: Lebih aman untuk bersepeda
- Bawa power bank: Buat yang suka foto-foto pakai HP
- Stay hydrated: Minum yang cukup sebelum mulai
- Open mind: Siap untuk berinteraksi dengan warga dan menikmati pengalaman sederhana
Alternatif untuk yang Nggak Bisa Bersepeda
Buatan kamu yang nggak bisa atau nggak mau bersepeda, Kedai Bukit Rhema juga punya paket sunrise dan sarapan di Gereja Ayam. Lebih santai dan menyenangkan.
Kenapa Pengalaman Ini Berkesan?
Buat saya, yang bikin pengalaman sepeda keliling desa ini berkesan adalah kombinasi dari beberapa hal:
Pertama, timing yang tepat. Mulai setelah sunrise, ketika udara masih sejuk dan suasana desa masih segar. Kedua, rute yang well-planned. Nggak cuma asal bersepeda, tapi benar-benar melewati spot-spot menarik dan representatif. Ketiga, interaksi manusiawi. Bukan tur yang cuma lihat-lihat dari jauh, tapi benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari warga.

Dan yang paling penting, rasa connected dengan tempat. Setelah tur ini, Borobudur buat saya bukan lagi sekadar candi megah, tapi sebuah living landscape dengan masyarakat yang punya kehidupan, tradisi, dan cerita sendiri.
Final Thoughts
Kalau kamu planning ke Borobudur dan pengin experience yang berbeda dari sekedar foto di candi, sepeda keliling desa ini worth to try. Apalagi kalau digabung dengan sunrise viewing di Gereja Ayam—double experience yang memorable banget.
Yang perlu diingat, ini bukan tur mewah dengan fasilitas bintang lima. Ini experience sederhana, autentik, dan manusiawi. Justru di situlah charm-nya. Kamu nggak akan dapat resort-style service, tapi kamu akan dapat senyuman tulus, cerita-cerita menarik, dan pengalaman yang mungkin bakal kamu ingat lebih lama dari foto-foto di candi.
So, kalau next time ke Borobudur, maybe give it a try? Siapa tahu kamu juga dapat pengalaman berkesan seperti saya. Happy traveling!
