Home Blog Page 6

Mangut Lele Pedas-Gurih di Mangut Lele Mbah Marto, Bantul

1

Day 6 – Siang dari Sheraton Mustika (habis eksplor selatan). Perut sudah bunyi, dan saya butuh menu khas yang pedas-gurih untuk isi tenaga. Saya arahkan motor ke Mangut Lele Mbah Marto di Bantul—tempat yang sering disebut karena asapnya yang kuat dan dapur tradisionalnya. Jalan kampung yang sempit bikin ritme melambat, tapi justru itu yang menyiapkan saya untuk makan siang yang tenang dan fokus pada rasa.

Kenapa Saya Datang ke Mangut Lele Mbah Marto

Saya datang dengan ekspektasi sederhana: mangut lele yang kuahnya nendang, asapnya terasa, dan teknik masaknya masih tradisional. Di Yogyakarta, terutama area selatan, kuliner berasap dengan bumbu sederhana sering justru memunculkan karakter rasa yang jujur. Mangut Lele Mbah Marto terkenal karena dapur kayu bakarnya—aroma asapnya bukan gimmick, tetapi bagian dari proses yang membentuk rasa. Itu yang saya cari siang ini.

Pengalaman Makan di Mangut Lele Mbah Marto

Masuk ke ruang makan, aroma asap langsung menyapa—bukan menyengat, tapi konsisten. Proses pesan cepat; tinggal sebut porsi, pilihan lauk, dan tingkat pedas. Saya menunggu sekitar 10–20 menit hingga mangut lele tiba: potongan lele dengan kulit sedikit kehitaman bekas asap, kuah kuning-oranye yang tidak terlalu pekat, dan percikan minyak cabai di permukaan.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur

mangut lele mbah marto
Mangut Lele

Suapan pertama mengingatkan saya bahwa pedas di sini bukan “menghukum,” tapi menghangatkan. Rasa asapnya terasa di kulit dan menempel tipis pada daging, lalu disapu kuah santan yang gurih, sedikit manis, dan punya aftertaste cabai yang rapi. Tekstur lele lembut—tidak hancur—dengan pori yang menyerap bumbu tanpa bikin daging jadi anyep. Saya santap siang hari (memang paling pas dimakan saat siang), dan keringat kecil di pelipis rasanya justru menambah nikmat. Nasi hangat membantu menyeimbangkan pedas, sementara lalapan dan kerupuk memberi jeda renyah di antara suapan.

Alur penyajiannya sederhana: pesan, pilih lauk, duduk, dan tunggu sebentar. Dapur yang terbuka membuat prosesnya bisa dilihat—banyak wajan, panci, dan tungku kayu. Kalau Kamu suka memperhatikan detail, bagian ini menarik: ada ritme yang tidak terburu-buru, seolah waktu disetel untuk memberi ruang pada asap bekerja.

Untuk Lokasi : Google Maps

Informasi Untuk Mangut Lele Mbah Marto

  • Jam ramai: 12.00–14.00. Datang sedikit sebelum jam itu jika ingin lebih tenang.
  • Parkir: terbatas karena di kampung. Motor relatif lebih mudah; mobil perlu sabar dan sering harus menyusuri gang perlahan.
  • Sudah berdiri sejak: ±1960-an. Usia yang panjang biasanya berarti resep dan ritme dapur sudah sangat teruji.
  • Durasi saya di lokasi: 40–50 menit—cukup untuk pesan, makan santai, dan sedikit istirahat sebelum lanjut perjalanan.

Ngobrol dengan Karyawan Mangut Lele Mbah Marto

  • Tingkat pedas bisa diatur? Bisa. Bilang saja mau pedas ringan, sedang, atau pedasnya dinaikkan.
  • Ikan selain lele ada? Ada beberapa opsi musiman (kadang pari atau patin), tapi lele adalah andalan.
  • Asap kuatnya dari kayu apa? Umumnya kayu keras lokal; menghasilkan panas stabil dan aroma asap yang konsisten.
  • Hari libur paling ramai kapan? Akhir pekan dan hari libur nasional—siang menjelang sore biasanya puncak.

Di Bantul ada beberapa warung mangut lele lain. Sebagian punya kuah lebih kental, sebagian lain bermain di pedas yang lebih meledak. Keunggulan Mbah Marto terletak pada profil asap yang terasa alami dan kuah pedas-gurih yang rapi—tidak terlalu manis, tidak terlalu berat. Buat Kamu yang sensitif santan, kuah di sini tetap bersih di mulut, tidak bikin enek setelah suapan kedua. Kalau Kamu suka pedas ekstrem, ada tempat yang lebih “ganas,” tetapi kehilangan keseimbangan gurihnya; di sini keseimbangannya yang menonjol.

Tips Kunjungan ke Mangut Lele Mbah Marto

  1. Datang sebelum 12.00 untuk menghindari antrian panjang dan mendapat tempat duduk yang nyaman.
  2. Sebut tingkat pedas di awal. Kalau ragu, pilih sedang—pedasnya hangat dan bisa dinikmati sampai suapan terakhir.
  3. Pilih lauk utama lele dulu, baru tambah lauk sampingan jika perlu. Dengan kuah yang gurih, porsi nasi cenderung cepat habis.
  4. Bawa uang tunai kecil untuk mempercepat transaksi.
  5. Untuk keluarga/anak, minta kuah pedas ringan; asapnya tetap terasa, tetapi mulut anak tidak “kaget.”
  6. Parkir: kalau bawa mobil, lebih aman datang lebih pagi atau sore menjelang—gang kampung sempit dan keluar-masuk kendaraan perlu bergiliran.

Asap di sini bukan sekadar aroma tempelan. Lele yang diasapkan singkat memberi dimensi rasa yang menempel di kulit dan menyusup ke daging bagian luar. Saat kuah santan pedas masuk, dua hal terjadi: asap memberi fondasi, cabai memberi ujung rasa. Hasilnya bukan pedas satu nada, tetapi pedas yang naik bertahap, lalu turun dengan gurih. Aftertaste-nya bersih, tidak meninggalkan rasa pahit atau gosong.

Pelayanan ringkas dan apa adanya. Karyawan terbiasa dengan pengunjung luar kota, jadi pertanyaan tentang pedas atau pilihan lauk dilayani dengan sabar. Ritme dapur tradisional membuat tempo makan terasa santai—kalau Kamu datang ketika ramai, 10–20 menit menunggu justru memberi waktu untuk menikmati suasana dan menyiapkan lidah.

Baca Juga : Gelato Santai di Tempo Gelato Jogja — Sore Manis yang Nggak Bikin Ribet

Buat Kamu yang merancang itinerary dari area selatan Yogyakarta, titik ini cocok dijadikan pit stop siang. Lokasinya di kampung memang menuntut kesabaran, tetapi imbalannya adalah pengalaman rasa yang sulit disalin di tempat lain: asap yang wajar, pedas yang diatur, dan kuah yang bersih di mulut. Ini bukan jenis kuliner “heboh plating,” tetapi kuliner yang menjaga inti rasa.

FAQ – Pertanyaan yang sering muncul

Apa yang membuat mangut lele di sini istimewa?

Profil asap dari dapur kayu bakar dan kuah pedas-gurih yang seimbang—tidak terlalu berat, aftertaste bersih.

Bisa atur tingkat pedas?

Bisa. Sampaikan sejak pesan: pedas ringan, sedang, atau lebih pedas.

Selain lele, ada ikan lain

Umumnya fokus lele. Kadang tersedia lauk musiman (misalnya pari/patin), tergantung ketersediaan hari itu.

Asapnya pakai kayu apa?

Umumnya kayu keras lokal untuk panas stabil dan aroma asap yang konsisten.

Jam paling ramai kapan?

Sekitar 12.00–14.00. Datang sedikit sebelum jam itu agar lebih tenang.

Berapa lama biasanya menunggu?

Berapa lama biasanya menunggu?

Parkirnya bagaimana?

Terbatas karena lokasi kampung. Motor lebih mudah; mobil perlu sabar dan bergantian di gang.

Cocok untuk keluarga/anak?

Cocok. Minta pedas ringan atau pisahkan kuah. Kursi biasa tersedia; datang lebih awal agar dapat meja nyaman.

Apakah bisa bungkus/takeaway?

Umumnya bisa. Bilang ke staf agar kuah dipisah agar tetap rapi saat dibawa.

Kapan waktu terbaik berkunjung?

Sebelum jam makan siang (menjelang 12.00) atau setelah puncak ramai lewat (sekitar >14.00).

Sejak kapan berdiri?

Kurang lebih sejak ±1960-an—resep dan ritme dapur sudah teruji waktu.

Jadi Wajib gak Nih ke Mangut Lele Mbah Marto?

Wajib — (asap, pedas, tradisional). Kalau Kamu mencari mangut lele dengan karakter asap yang nyata, pedas yang bisa diatur, dan dapur yang memegang cara lama, Mangut Lele Mbah Marto perlu masuk daftar. Nilai tambahnya ada pada konsistensi rasa dan pengalaman ruang yang jujur: sederhana, hangat, dan fokus pada inti—ikan, kuah, dan api.

Gelato Santai di Tempo Gelato Jogja — Sore Manis yang Nggak Bikin Ribet

1

Day 5 – Sore dari Melia Purosani. Saya melipir ke Tempo Gelato untuk satu misi sederhana: cari yang dingin–manis sebelum makan malam. Perut belum benar-benar lapar, tapi mulut pengin sesuatu yang segar. Jalan sore di Prawirotaman memang selalu menggoda; lampu toko mulai hidup, arus orang santai, dan di depan pintu kaca Tempo Gelato, visual cone berwarna-warni seperti memanggil, “Masuk dulu, ambil yang kamu suka.”

Kenapa Saya Datang ke Tempo Gelato

Saya memilih Tempo Gelato karena dua hal: pilihan rasa yang banyak dan interior yang instagramable untuk momen santai menjelang malam. Di Jogja, area Prawirotaman dan Kaliurang sama-sama ramah buat nongkrong; satu lebih “travel vibe”, satu lagi cocok buat anak kampus dan keluarga. Target saya sederhana: cicip rasa lokal yang manis-segar, duduk sebentar, foto seperlunya, lanjut dinner.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur

Pengalaman Makan di Tempo Gelato

Saya datang sore–malam—waktu paling ideal kalau kamu cari sensasi dingin setelah panas kota. Di pintu, staf mengarahkan ke bar rasa; alur pesannya jelas: lihat etalase, pilih cup atau cone, tentukan ukuran, bayar, ambil nomor, tunggu.

gelato jogja
Tempo Gelato
  • Waktu tunggu saya sekitar 10–20 menit (tergantung antrean).
  • Durasi di lokasi: kira-kira 25–35 menit—cukup untuk menikmati tanpa terburu-buru.

Soal rasa, saya pilih kombinasi pandan-coconut dan dark chocolate.

  • Tekstur gelato di sini cenderung padat-creamy, dengan melting yang pelan (enak buat foto).
  • Pandan-coconut: wangi halus, manisnya terkendali, aftertaste santan yang bersih.
  • Dark chocolate: pahit legit, aftertaste cokelat pekat yang tidak menusuk, dan nggak bikin seret.
  • Cone-nya garing tipis, mengimbangi gelato yang lembut; kalau kamu anti ribet, cup tetap opsi paling aman.

Secara suasana, lampu hangat, bata ekspos, dan kursi kayu memberi tone foto yang rapi—medium contrast yang membuat warna gelato muncul tanpa over-saturasi. Musik pelan, cukup untuk ngobrol; kebersihan meja dan lantai terjaga di jam ramai.

Untuk Lokasi : Google Maps

Informasi Praktis Untuk Tempo Gelato

  • Ramai pada jam: 16.00–20.00 (puncak biasanya menjelang magrib hingga malam awal).
  • Parkir motor/mobil: terbatas—kalau bawa mobil, pertimbangkan drop-off dulu.
  • Sudah berdiri sejak: ±2015; konsistensi rasa dan layanan terasa dari antrian yang stabil.

Ngobrol Singkat dengan Karyawan Tempo Gelato

  • Rasa lokal favorit? “Yang sering dicari: klepon/pandan-coconut, kacang hijau, dan teh tarik; yang klasik tetap laris: hazelnut & pistachio.”
  • Cone vs cup lebih laris? “Imbang, tapi di jam foto-foto cone menang tipis.”
  • Bisa mix berapa rasa? “Umumnya 2–3 rasa untuk ukuran medium/large; silakan tanya di kasir untuk kombinasi.”
  • Antrian paling singkat jam berapa? “Biasanya sebelum pukul 16.00 atau lewat 20.00, tapi tetap situasional saat weekend/libur.”

Komparasi Ringkas

  • Artemy Gelato: pilihannya juga menarik, dengan pendekatan rasa yang sering terasa “clean” dan rapi di lidah.
  • Ciao Gelato: comfy untuk hangout santai, komposisi rasa yang ramah keluarga.
  • Tempo Gelato menonjol di variasi rasa yang luas dan interior yang fotogenik—mudah buat foto cepat, lanjut jalan.

Tips Kunjungan ke Tempo Gelato

  1. Datang lebih awal (sebelum 16.00) atau setelah 20.00 untuk antrean lebih singkat.
  2. Pilih cup kalau kamu pengin eksplor 2–3 rasa tanpa takut tumpah; cone kalau prioritasmu foto cantik dan tekstur crunchy.
  3. Mulai dari satu rasa lokal + satu klasik. Misal pandan-coconut + dark chocolate; kamu dapat kontras yang menyenangkan di lidah.
  4. Bawa uang pas atau non-tunai untuk mempercepat alur kasir di jam ramai.
  5. Untuk keluarga/anak: pilih ukuran medium, minta sendok tambahan, dan duduk di area yang tidak dekat pintu supaya tidak kena lalu-lalang antre.

    Baca Juga : Oseng Mercon Bu Narti: Pedas Ekstrem Favorit Malam di KH Ahmad Dahlan

FAQ — Tempo Gelato Jogja

Di jam berapa Tempo Gelato biasanya paling ramai?

Paling ramai sekitar 16.00–20.00. Datang sebelum 16.00 atau setelah 20.00 biasanya antre lebih singkat.

Lebih baik pilih cone atau cup?

Kalau mau praktis & bisa mix 2–3 rasa, pilih cup. Kalau prioritas foto dan tekstur crunchy, pilih cone.

Bisa mix berapa rasa dalam satu porsi?

Umumnya 2–3 rasa untuk ukuran medium/large. Tanyakan ke kasir untuk kombinasi di hari kunjunganmu.

Rasa lokal favorit di Tempo Gelato apa saja?

Sering dicari: pandan-coconut/klepon, kacang hijau, teh tarik. Klasik yang stabil: hazelnut dan pistachio.

Berapa rata-rata waktu tunggu saat ramai?

Sekitar 10–20 menit tergantung antrean dan jam kunjungan.

Bagaimana kondisi parkir di Tempo Gelato (Prawirotaman/Kaliurang)?

Parkir terbatas. Jika bawa mobil, pertimbangkan drop-off dulu lalu cari parkir di sekitar.

Apakah tempatnya nyaman untuk keluarga/anak?

Ya, suasana santai dan fotogenik. Untuk anak, pilih cup ukuran medium dan minta sendok tambahan.

Kapan Tempo Gelato mulai dikenal di Jogja?

Mulai populer sekitar ±2015, dengan ciri variasi rasa banyak dan interior yang instagramable.

Jadi Wajib gak Nih?

Verdict: Layak — (segar, ramai, fotogenik).
Tempo Gelato memberikan apa yang saya cari di sore hari: dingin-manis yang seimbang, suasana santai yang ramah foto, dan sistem antre yang terkelola. Bukan tempat untuk duduk berlama-lama seperti kafe kerja, tapi pas untuk pit-stop manis sebelum kamu lanjut makan malam. Dengan variasi rasa luas dan lokasi strategis (Prawirotaman/Kaliurang), ini jenis destinasi dessert yang mudah direkomendasikan untuk first-timer maupun yang ingin comeback cepat.

Oseng Mercon Bu Narti: Pedas Ekstrem Favorit Malam di KH Ahmad Dahlan

1

Saya baru kembali ke Melia Purosani ketika perut mulai “nyari” yang berapi-api. Kamu pernah begitu juga, kan—capek jalan-jalan, lalu tiba-tiba ingin sensasi pedas yang tegas? Malam itu saya melipir rekomendasi makan ke KH Ahmad Dahlan, tepatnya ke Oseng Mercon Bu Narti. Skena pedasnya Jogja terasa hidup di sini: asap wajan, aroma bawang, dan deretan cabai yang bikin jantung berdebar—dengan cara yang menyenangkan bagi lidah.

Kenapa Saya Datang ke Oseng Mercon Bu Narti

Di Jogja, banyak pilihan kuliner malam. Tapi ketika ekspektasi saya adalah pedas yang “berkarakter”, nama Bu Narti otomatis muncul. Kelebihan utamanya jelas: pedas kuat yang bukan sekadar numpuk cabe, tapi punya rasa; lalu lauk campur—tetelan, daging, kikil, dan jeroan—yang membuat satu porsi terasa kaya tekstur. Lokasinya di KH Ahmad Dahlan juga strategis untuk kamu yang menginap di area Malioboro–Puro Pakualaman. Pendeknya, ketika kota mulai tenang, wajan di sini justru mulai bicara.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur

Pengalaman Makan Oseng Mercon Bu Narti

oseng mercon bu narti
Oseng Mercon Kikil

Begitu memesan, saya melihat alur yang rapi: pesanan dicatat, wajan bekerja, lalu porsi disajikan cepat bergiliran. Waktu menunggu saya malam itu sekitar 10–20 menit, wajar untuk jam ramai. Saat piring mendarat, tampilannya sederhana—merah kecokelatan dengan potongan lauk berkilau.

  • Rasa: pedasnya “langsung nyapa” di lidah, tapi bukan pedas kosong. Ada gurih bawang, kaldu, dan sedikit manis yang mengetuk belakang lidah.
  • Tekstur: dagingnya empuk, kikil kenyal, tetelan memberi gigitan yang menyenangkan. Kuah osengnya cenderung kental-minim cairan, jadi bumbu menempel ke setiap suapan.
  • Aftertaste: hangatnya bertahan, bikin saya minum es teh lebih lambat agar sensasi pedasnya berproses pelan-pelan.

Enaknya dimakan saat malam, ketika udara Jogja lebih sejuk. Nasi hangat membantu menyeimbangkan cabai. Buat kamu yang sensitif, siapkan tandingan seperti teh manis atau susu (bawa sendiri enggak masalah). Jangan buru-buru—nikmati ritme pedasnya.

Untuk Lokasi : Google Maps

Informasi Praktis Oseng Mercon Bu Narti

  • Jam ramai: sekitar 20.00–23.00. Kalau ingin antre lebih singkat, datang sebelum 20.00 atau setelah 22.30 (cek stok ya).
  • Parkir motor/mobil: tepi jalan; malam hari lumayan padat. Kalau datang mobil, lebih nyaman turunkan penumpang dulu, lalu cari slot.
  • Sudah berdiri sejak: ±1998, jadi wajar kalau tempat ini punya banyak pelanggan tetap.
  • Durasi di lokasi: rata-rata 30–40 menit sudah cukup untuk antre–makan–foto–beres.

FAQ Ngobrol Singkat dengan Karyawan Oseng Mercon Bu Narti

Level pedas bisa request?

Bisa dibantu sedikit diturunkan untuk kamu yang ingin lebih “bersahabat”, tapi karakter pedas Bu Narti tetap dominan.

Menu non-pedas ada?

Ada pilihan lauk non-pedas pendamping (tanya yang ready), dan minuman hangat untuk “ngerem” tulang rusuk dari kejutan cabai.

Porsi campur favorit?

Campur tetelan–kikil–daging jadi juara karena teksturnya berlapis; banyak pelanggan minta komposisi ini.

Tips parkir malam?

Datang agak awal atau naik ojek online saat jam puncak. Kalau bawa mobil, sabar putar sekali–dua kali.

Keduanya kuat di identitas oseng mercon. Bu Narti terasa lebih tegas pedasnya dengan bumbu menempel ke lauk, cocok buat kamu yang mencari benturan rasa dari suapan pertama. Bu Roso punya gaya yang sedikit berbeda—beberapa orang menilai bumbunya lebih “rapi” dan opsi lauknya tertata. Pilih mana? Kalau kamu prioritas pedas menggigit, Bu Narti unggul. Kalau kamu mau rapi dan aman untuk pemula pedas, Bu Roso bisa dicoba. Dua-duanya layak dalam “tour pedas” Jogja tanpa perlu saling menjatuhkan.

Cara Pesan di Oseng Mercon Bu Narti Biar Makin Puas

  1. Mulai dari porsi campur standar. Ini cara paling efektif kenalan dengan tekstur.
  2. Tambah nasi kedua kalau kamu tim karbo. Bumbu menempel bikin nasi cepat habis.
  3. Siapkan minuman netral. Teh hangat atau air mineral membantu “reset” lidah.
  4. Minta pedasnya sedikit diturunkan kalau kamu baru pertama datang. Ingat: mulut bahagia, perut juga harus nyaman.
  5. Bagi dua porsi kalau datang berdua—hemat antre, hemat waktu, tetap puas.

Pelayanan Oseng Mercon Bu Narti

Di jam sibuk, kamu akan melihat sinkronisasi sederhana: satu orang bagian catat pesanan, satu meracik, satu lagi menyajikan. Meski antre, alur jalan; yang penting sabar menjaga barisan. Atmosfernya khas kuliner malam Jogja: lampu jalan, obrolan pendek antar pelanggan, dan bunyi wajan yang ritmis. Buat saya, ini bagian dari pengalaman—tidak sekadar makan, tapi “masuk” ke kehidupan malam kuliner Jogja.

Catatan Keluarga/Anak

Kalau kamu bawa anak atau anggota keluarga yang sensitif pedas, pesan lauk pendamping non-pedas (kalau tersedia) dan siapkan nasi terpisah. Jangan lupa air putih. Untuk balita, sebaiknya hindari langsung dan fokus ke lauk netral (bila ada). Ingat, ini pedas ekstrem—prioritaskan nyaman.

Waktu Terbaik Datang ke Oseng Mercon Bu Narti

  • Sebelum 20.00: antre lebih pendek, pilihan lauk cenderung lengkap.
  • 20.00–23.00: peak hour, suasana paling “hidup”; siapkan waktu tunggu 10–20 menit.
  • >23.00: relatif lebih lengang, tapi cek ketersediaan lauk.

Kalau tujuanmu foto-foto, pilih sebelum 20.00 agar lebih leluasa. Kalau tujuanmu “merasakan denyut malam Jogja”, peak hour justru menyenangkan.

Baca Juga : Sate Klathak Pak Pong Imogiri: Daging Empuk, Asap Tipis, Bumbu Sederhana yang Mengena

Rekomendasi Pairing

  • Nasi hangat + oseng campur (tetelan–kikil–daging) untuk tekstur berlapis.
  • Teh hangat untuk menetralkan lidah di sela suapan.
  • Kerupuk (jika tersedia) untuk permainan renyah yang menyeimbangkan lunak–kenyal.

Budget & Nilai

Harga bisa berubah, tetapi nilai utamanya ada pada rasa dan karakter pedas—bukan sekadar banyak cabai. Kamu membayar pengalaman: bumbu menempel, lauk berkarakter, dan suasana malam yang khas. Dengan durasi 30–40 menit, ini tipe kuliner yang efisien untuk agenda malam yang padat.

Do & Don’t

Do:

  • Datang saat perut dalam kondisi baik.
  • Mulai dari level pedas yang kamu sanggupi.
  • Bawa air atau pilih minuman hangat.

Don’t:

  • Makan kebut-kebutan—biarkan pedasnya “mendarat” pelan.
  • Memaksa level pedas di luar kebiasaan (apalagi kalau besok ada agenda penting).

“Apa Rasanya Buat Pemula Pedas?”

Kalau kamu bukan “anak cabe”, kamu tetap bisa menikmati pengalaman ini. Mulailah dari porsi campur dengan sedikit pedas; fokus ke rasa gurih-kaldu dan tekstur lauknya. Setelah itu, baru tingkatkan. Intinya: kenali ambangmu, jangan berperang dengan piring sendiri.

Ringkasnya

  • Pedas: kuat, berkarakter, nempel di lidah.
  • Lauk: campur dengan tekstur variatif, bikin suapan tidak membosankan.
  • Waktu tunggu: 10–20 menit saat ramai.
  • Jam ramai: 20.00–23.00.
  • Parkir: tepi jalan; lebih nyaman naik motor/ojol.
  • Sejak: ±1998; wajar punya banyak pelanggan loyal.
  • Durasi di lokasi: 30–40 menit cukup untuk antre dan makan santai.

Jadi Wajib Nggak Nih?

Layak. Tiga klue kunci: pedas, nagih, malam. Kalau kamu mencari kuliner malam yang meninggalkan kesan tanpa gimmick, Oseng Mercon Bu Narti adalah salah satu “ritual” yang patut dicoba di Yogyakarta. Datang dengan ekspektasi pedas yang jujur, nikmati ritmenya, lalu pulang dengan rasa hangat di lidah dan memori yang bertahan sampai besok pagi.


Rangkuman

  • Enak dimakan saat: Malam
  • Jam ramai: 20.00–23.00
  • Parkir motor/mobil: Tepi jalan
  • Kelebihan lain: Pedas kuat, lauk campur
  • Kompetitor sejenis: Oseng Mercon Bu Roso
  • Sudah berdiri sejak: ±1998
  • Waktu menunggu: 10–20 menit
  • Durasi di lokasi: 30–40 menit
  • 4 tanya–jawab singkat:
    • Level pedas bisa disesuaikan (sedikit diturunkan)
    • Ada opsi pendamping non-pedas (tanya yang ready)
    • Porsi favorit: campur tetelan–kikil–daging
    • Parkir: datang awal/naik ojol saat puncak

Sate Klathak Pak Pong Imogiri: Daging Empuk, Asap Tipis, Bumbu Sederhana yang Mengena

1

Malam itu, Day 4, saya berangkat dari Hyatt Regency menuju selatan untuk menutup hari dengan sesuatu yang “daging banget”. Kamu tahu rasanya: perut sudah mengingatkan, kepala ingin yang langsung nendang. Saya pilih makanan enak arah Imogiri—targetnya jelas: Sate Klathak Pak Pong. Perjalanan santai, lampu-lampu jalan memanjang, dan saya sudah membayangkan bunyi “cesss” dari panggangan arang.


Kenapa Saya Datang ke Sate Klathak Pak Pong

Sate klathak punya ciri khas yang unik: daging kambing ditusuk besi, bumbu sederhana, lalu dipanggang hingga permukaan berkilau minyak alaminya. Di Pak Pong, hal ini terasa “jujur” di lidah—tanpa banyak rempah yang menutupi rasa asli daging. Untuk roadtrip selatan, pilihan ini pas: porsinya tegas, rasanya lugas, dan suasananya hidup tanpa dibuat-buat. Kamu yang mencari makan malam dengan karakter kuat akan merasa ditemani dengan baik.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Pengalaman Makan di Sate Klathak Pak Pong

sate klathak pak pong
Sate Klathak Pak Pong

Begitu duduk, saya pesan sate klathak dan beberapa pendamping. Alurnya sederhana: ambil tempat, pesan, lalu bersiap menunggu 20–40 menit (ini normal di jam ramai). Sambil menunggu, aroma asap tipis mulai terasa. Ketika piring datang, tampilannya minimalis—potongan daging besar, tusuk besi masih hangat, dan kuah pendamping yang menggoda.

  • Tekstur & Rasa: Daging empuk dengan serat masih terasa, juicy di bagian dalam. Permukaan luar punya kecokelatan halus akibat api arang. Bumbunya tidak mendominasi—garam dan sedikit rempah dasar—membiarkan rasa kambing tampil bersih.
  • Pori & Juiciness: Potongan yang agak besar membuat pori daging “menyimpan” jus. Saat digigit, kamu akan merasakan lelehan lemak halus yang menyatukan rasa asin-gurihnya.
  • Aftertaste: Tidak ada jejak langu berat. Setelah suapan terakhir, mulut tetap nyaman—yang tersisa justru rasa asap tipis dan gurih natural.
  • Kapan Paling Nikmat: Malam. Udara lebih sejuk, dan aroma arang terasa lebih jelas. Pas untuk “hadiah” setelah hari panjang.
  • Waktu Tunggu: 20–40 menit (tergantung keramaian).
  • Durasi di Lokasi: 45–60 menit dari duduk sampai selesai.

Untuk pendamping, saya suka menyesap kuah “gulai” sebagai pelengkap. Rasanya hangat, gurih, tidak menutup rasa sate. Kalau Kamu tipe yang senang “main aman”, cobalah minta kuah disajikan terpisah—menjaga ritme rasa tetap bersih.


Informasi Praktis Sate Klathak Pak Pong

  • Ramai pada Jam: 19.00–21.00 (prime time).
  • Parkir Motor/Mobil: Area parkir tersedia. Namun, di jam puncak tetap perlu bersabar mencari slot.
  • Sudah Berdiri Sejak: — (saya tidak menemukan informasi resmi di lokasi saat kunjungan; pakai diksi netral agar tidak keliru).

Catatan kecil: meski area parkir ada, arus keluar-masuk cukup dinamis di malam hari. Datang sedikit sebelum puncak jam ramai bisa mengurangi waktu menunggu.

Untuk Lokasi : Google Maps


Ngobrol Singkat dengan Karyawan Sate Klathak Pak Pong

  • Tingkat Kematangan Bisa Diatur?
    Bisa. Sampaikan preferensi Kamu saat memesan. Medium-juicy untuk rasa daging paling “hidup”, well-done kalau Kamu ingin tekstur lebih kering dan aman untuk anak.
  • Bagian Kambing Favorit?
    Banyak yang suka bagian paha untuk keseimbangan empuk-juicy. Ada juga yang meminta kombinasi agar tekstur lebih “bermain”.
  • Kuah Gulai Terpisah?
    Bisa. Minta kuah disajikan di mangkuk sendiri. Ini membantu menjaga sate tetap “bersuara” tanpa tertutup kuah.
  • Tips Biar Nggak Antre Panjang?
    Datang sedikit sebelum 19.00 atau setelah 21.00. Kalau datang rombongan, putuskan pesanan inti sejak awal agar antrian dapur bergerak lebih cepat.

Baik Pak Pong maupun Pak Bari sama-sama mengusung karakter dasar sate klathak: tusuk besi, bumbu minimalis, api arang. Di Pak Pong, saya merasakan penekanan pada potongan daging yang tegas dan aftertaste yang bersih—cocok buat Kamu yang ingin “rasa kambingnya tampil”. Sementara itu, sebagian orang menyukai nuansa rasa dan ritme saji yang berbeda di Pak Bari. Keduanya layak dicoba, pilihan akhirnya tergantung preferensi tekstur, nuansa asap, dan suasana yang Kamu cari.


Tips Kunjungan ke Sate Klathak Pak Pong

  1. Datang di “Golden Window”.
    Pilih sebelum 19.00 atau lewat 21.00 untuk memotong antrean.
  2. Kunci Pesanan dari Awal.
    Tentukan jumlah tusuk dan tingkat kematangan di awal; hindari ubah-ubah di tengah karena antrean grill sedang padat.
  3. Kuah di Samping.
    Minta kuah disajikan terpisah agar ritme rasa sate tetap fokus.
  4. Untuk Keluarga/Anak.
    Pilih kematangan well-done dan siapkan pendamping yang netral (nasi hangat, irisan timun).
  5. Parkir & Akses.
    Area parkir tersedia, tapi siapkan opsi putar balik kecil jika penuh saat puncak.
  6. Waktu Tunggu Realistis.
    Malam hari adalah panggungnya sate klathak. 20–40 menit adalah bagian dari pengalaman. Anggap ini jeda untuk ngobrol santai.

FAQ – Pertanyaan yang sering muncul

Apakah sate klathak selalu pedas?

Tidak. Bumbunya sederhana. Jika ingin pedas, Kamu bisa tambah sambal sesuai selera.

Kenapa pakai tusuk besi?

Tusuk besi menghantarkan panas lebih baik, membantu daging matang merata dari inti tanpa harus banyak bumbu.

Wajib pakai kuah?

Tidak wajib. Kuah sifatnya pelengkap. Diseruput hangat juga enak, tapi sate tetap “berdiri” sendiri.

Bisa dine-in cepat?

Di jam puncak, tidak. Datang di luar jam ramai untuk ritme yang lebih singkat.

Catatan Rasa Sate Klathak Pak Pong

Saya suka bagaimana garam dan panas berkolaborasi di sini. Garam mengangkat rasa alami kambing, sementara panas dari tusuk besi membuat bagian dalamnya matang rata—menjaga jus daging tetap tinggal di serat. Asap tipis dari arang memberi aroma “malam Jogja” yang khas, tidak menutupi, hanya menegaskan. Kalau Kamu terbiasa dengan sate yang penuh rempah, pengalaman ini bisa jadi “reset palate”—belajar menikmati “yang esensial”.


Ritme Sajian Sate Klathak Pak Pong

Di dapur panggangan, ritmenya cepat tapi penuh kalkulasi. Tusuk-tusuk besi dibolak-balik, jarak dari arang dijaga, dan panggangan terlihat padat saat puncak. Ketika piring datang, tidak ada dekor rumit—sederhana dan to the point. Ini yang membuat saya merasa, “Oh, fokusnya memang di daging”. Dan memang, satu-dua suapan pertama sudah cukup menjelaskan kenapa tempat ini ramai di malam hari.

Baca Juga : Mie Ayam Bu Tumini Giwangan: Semangkuk Kental Manis-Gurih untuk Siang Hari


Rekomendasi Pendamping

  • Nasi hangat: sederhana, membuat ritme gurih lebih stabil.
  • Kuah “gulai” di samping: sruput pelan untuk menambah hangat tanpa menutupi sate.
  • Timun/acar tipis: memberi jeda renyah dan segar di antara suapan.
  • Minuman non-manis berlebihan: biar aftertaste sate tetap bersih.

Etika Sederhana saat Ramai – Sate Klathak Pak Pong

Di jam 19.00–21.00, pergerakan cepat. Jaga antrian dengan tidak mengubah pesanan besar di tengah jalan. Kalau Kamu datang rombongan, sepakati jumlah dan kematangan di awal. Setelah selesai makan, beri giliran meja berikutnya. Hal-hal kecil seperti ini membuat pengalaman semua orang jadi lebih enak—termasuk Kamu saat kembali di lain waktu.


Kalau Kamu tidak terbiasa dengan rasa kambing, mintalah well-done untuk tekstur lebih kering dan aromanya lebih jinak. Bagi penikmat kambing, medium-juicy memunculkan karakter terbaiknya. Anak-anak biasanya cocok dengan potongan lebih kecil dan pendamping nasi hangat.


Wajib Datang ke Sate Klathak Pak Pong

Wajib. Tiga alasan singkat yang sulit dibantah: empuk, smoky, sederhana.
Di Sate Klathak Pak Pong, kita belajar bahwa tidak semua hidangan butuh banyak bumbu untuk jadi berkesan. Malam di Imogiri, arang yang sabar, dan tusuk besi yang bekerja konsisten—cukup untuk membuat Kamu tersenyum pulang.


  • Enak dimakan saat: Malam
  • Jam ramai: 19.00–21.00
  • Parkir: Area parkir tersedia
  • Kelebihan tempat: Tusuk besi, bumbu sederhana
  • Kompetitor sejenis: Sate Klathak Pak Bari
  • Sudah berdiri sejak: — (tidak disebut di lokasi saat kunjungan)
  • Waktu tunggu pesanan: 20–40 menit
  • Durasi di lokasi: 45–60 menit
  • 4 Jawaban karyawan: Kematangan bisa diatur; favorit paha; kuah bisa terpisah; datang sebelum 19.00/after 21.00 untuk potong antre

Mie Ayam Bu Tumini Giwangan: Semangkuk Kental Manis-Gurih untuk Siang Hari

1

Day 4 di Yogyakarta, siang hari setelah rapat di Hyatt Regency, saya memutuskan menepi ke Giwangan. Perut sedang lapar—tidak kosong banget, tapi minta sesuatu yang cepat dan nendang. Rekomendasi Makanan Saya ingat satu nama yang sering disebut orang lokal: Mie Ayam Bu Tumini. Kamu tahu rasanya ketika butuh mangkuk hangat yang bisa jadi “langkah cepat” pengisi energi? Ya, itu tujuan saya siang ini.


Kenapa Saya Datang ke Mie Ayam Bu tumini

Saya datang karena satu hal yang paling sering orang ceritakan: kuahnya yang kental dengan profil manis-gurih khas Jogja. Di kawasan Giwangan yang ramai dan bergerak cepat, mie ayam menjadi pilihan aman untuk jeda siang. Porsinya dikenal rewel dalam arti positif—dari biasa hingga jumbo—yang memuaskan berbagai tipe lapar. Saya berharap menemukan semangkuk mie ayam yang tidak hanya enak, tetapi juga konsisten, cepat disajikan, dan “nyantol” di ingatan begitu sendok terakhir selesai.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Pengalaman Makan Mie Ayam Bu tumini

mie ayam bu tumini
Mie Ayam

Saya tiba sekitar pukul 12.30, tepat ketika arus pengunjung mulai padat. Antrean rapi, dan terlihat alur yang jelas antara kasir, peracik, dan pengantar. Waktu tunggu saya siang itu sekitar 20 menit—masih dalam rentang normal 15–30 menit saat jam sibuk. Begitu mangkuk mendarat di meja, hal pertama yang tercium adalah aroma kaldu ayam pekat.

Rasa & Tekstur:
Kuahnya memiliki kepadatan yang “mengikat” mie. Bukan kental berlebihan, tetapi cukup untuk menempel pada helai-helai mie, jadi setiap suap terasa penuh. Manis-gurihnya seimbang: ada sisi gula yang halus di depan lidah, disusul gurih kaldu yang pelan-pelan menguat di belakang. Mie bertekstur kenyal, tidak mudah putus. Ayam cincangnya lembut, bumbu meresap, tanpa rasa berlebihan. Saat diseruput, ada sedikit aftertaste kaldu yang hangat, cocok untuk siang yang butuh tenaga cepat.

Alur Saji:
Setelah antre, pesanan dicatat ringkas. Karyawan memastikan preferensi: porsi biasa atau jumbo, mau seberapa manis, dan apakah perlu tambahan topping. Begitu siap, mangkuk datang dengan tampilan sederhana: mie, ayam cincang, sawi, dan siraman kuah kental mengilap. Sambal, cuka, dan kecap tersedia di meja—silakan Kamu setel sesuai selera. Kalau Kamu suka rasa lebih “nendang”, tambahkan sambal sedikit-sedikit, karena kuah dasarnya sudah kuat.

Kapan Enaknya?
Bagi saya, mie ayam ini paling pas disantap siang hari. Mangkuk hangat, kalori cukup, dan tidak bikin kantuk berlebihan jika porsi Kamu pas. Durasi saya di lokasi sekitar 30–40 menit, termasuk antre dan menikmati makan tanpa terburu-buru.

Untuk Lokasi : Google Maps


Informasi Praktis Untuk Datang ke Mie Ayam Bu tumini

  • Jam Ramai: 12.00–15.00. Jika ingin antre lebih singkat, datanglah sedikit sebelum atau sesudah rentang ini.
  • Parkir Motor/Mobil: Tepi jalan. Motor relatif lebih mudah; mobil perlu sabar dan cek celah.
  • Sudah Berdiri Sejak: ±1990-an. Lama di lapangan biasanya berarti racikan sudah teruji banyak lidah.

Ngobrol Singkat dengan Karyawan Mie Ayam Bu tumini

  • Porsi jumbo ada? Ada. Cocok untuk Kamu yang butuh mangkuk “sekali kenyang”.
  • Level manis bisa diatur? Bisa. Sampaikan di awal, karyawan terbiasa menyesuaikan.
  • Topping favorit apa? Ayam cincang ekstra dan tambahan bakso jadi pilihan populer.
  • Metode antre paling cepat? Datang sebelum jam puncak (sekitar 11.30–12.00) atau setelah 14.30; antre lebih luwes.

Di sekitar Giwangan, ada beberapa penjual mie ayam dengan gaya yang mirip. Perbedaannya biasanya di kekentalan kuah dan profil rasa manis. Bu Tumini menonjol karena kuahnya yang cenderung lebih kental dengan manis-gurih yang tegas. Tempat lain mungkin menawarkan kuah lebih ringan atau manis yang lebih tipis. Kalau selera Kamu condong ke rasa yang “menggamit” mie di setiap suap, Bu Tumini punya keunggulan di situ. Jika Kamu penyuka kuah lebih ringan, Kamu bisa sesuaikan di meja dengan cuka atau minta sedikit lebih “nenteng” saat pesan.

Baca Juga : Angkringan & Kopi Joss di Angkringan Lik Man (Tugu), Yogyakarta — Nongkrong Malam yang Bikin Kangen


Tips Kunjungan ke Mie Ayam Bu tumini

  1. Waktu Terbaik Datang:
    Datang sebelum pukul 12.00 atau setelah 14.30. Antrian cenderung lebih singkat, dan Kamu dapat tempat duduk nyaman.
  2. Strategi Pesan:
    • Kalau Kamu suka kuah tidak terlalu manis, bilang sejak awal.
    • Suka pedas nendang? Tambahkan sambal sedikit dulu, lalu naikkan pelan-pelan.
    • Porsi jumbo cocok untuk berbagi atau Kamu yang butuh tenaga ekstra.
  3. Untuk Keluarga/Anak:
    Minta kuah lebih “kalem” dan pisahkan sambal. Pilih porsi biasa agar nyaman di perut anak.
  4. Parkir & Akses:
    Siapkan uang kecil untuk parkir tepi jalan. Motor lebih fleksibel; mobil datang di luar jam puncak demi menghindari putar balik.
  5. Antre Cerdas:
    Saat ramai, antre dan bayar terasa cepat kalau Kamu sudah tahu pilihan: porsi, level manis, dan topping tambahan. Hemat waktu, mood tetap enak.

  • Kuah Kental Manis-Gurih: Duduk di garis tengah antara kaldu pekat dan rasa manis khas Jogja.
  • Konsistensi Porsi: Dari biasa sampai jumbo, ukurannya jelas, membuat ekspektasi terpenuhi.
  • Ritme Dapur Cepat: Meski antre 15–30 menit di jam puncak, alur meracik–menyaji terlihat rapi.

Catatan Rasa Mie Ayam Bu tumini

  • Kalem tapi berkarakter: Kurangi sambal, tambahkan sedikit cuka agar kuah terasa lebih ringan.
  • Nendang maksimal: Sambal bertahap, ayam cincang ekstra, dan aduk rata supaya bumbu menempel di mie.
  • Seimbang untuk siang: Porsi biasa, sambal tipis, bakso tambahan; cukup untuk energi tanpa “kekenyangan mendadak”.

FAQPertanyaan yang Sering Muncul

Kalau gak suka terlalu manis?

Bisa minta disesuaikan; karyawan terbiasa menyeimbangkan rasa.

Harus porsi jumbo?

Tidak. Porsi biasa sudah cukup mantap; jumbo untuk Kamu yang butuh ekstra.

Nunggu lama gak?

Di jam puncak 12.00–15.00, siapkan 15–30 menit. Di luar itu, biasanya lebih cepat.

Cocok buat makan cepat?

Ya. Setelah duduk, penyajian relatif sigap—terutama di luar jam ramai.


Kalau Kamu mencari mie ayam kental, murah, dan nendang untuk jeda siang di Yogyakarta, Mie Ayam Bu Tumini layak saya sebut “Wajib Coba”. Kuah pekatnya memberi karakter yang jarang “tanggung-tanggung”, porsinya jelas, dan ritme penyajiannya mendukung kebutuhan makan cepat. Untuk Kamu yang ingin rasa lebih kalem, tinggal sampaikan sejak awal; fleksibilitas itu membuat pengalaman makan jadi nyaman. Singkatnya, Bu Tumini menawarkan nilai yang sepadan dengan antrean—semangkuk mangkuk yang “menjawab” lapar sedang selepas meeting, tanpa drama.


  • Waktu terbaik: sebelum 12.00 atau setelah 14.30.
  • Antre: siapkan 15–30 menit saat puncak.
  • Parkir: tepi jalan—motor lebih fleksibel.
  • Rasa inti: kuah kental manis-gurih; minta penyesuaian kalau perlu.
  • Durasi di lokasi: 30–40 menit nyaman untuk makan dan rehat singkat.

Angkringan & Kopi Joss di Angkringan Lik Man (Tugu), Yogyakarta — Nongkrong Malam yang Bikin Kangen

1

Day 3 – Malam dari The Phoenix Hotel. Saya jalan kaki pelan ke arah Tugu, udara Yogyakarta terasa hangat dan ramai. Masih pengin cemal-cemil sambil nongkrong, saya belok ke deretan gerobak dekat rel, mencari tempat duduk sederhana dengan lampu kekuningan dan sampai Angkringan Lik Man Begitu duduk, arang menyala masuk ke gelas—kopi joss mengeluarkan bunyi “cesss” yang khas—dan nasi kucing pun mendarat di piring kecil. Ini momen santai yang saya harap-harap sejak sore.


Kenapa Saya Datang ke Angkringan Lik Man

Buat saya, malam di Jogja selalu identik dengan angkringan: nasi kucing, sate-satean, dan tentu saja kopi joss arang. Di sekitar Tugu, Angkringan Lik Man sudah lama jadi rujukan. Lokasinya strategis, dekat banyak penginapan, dan atmosfernya akrab—kursi panjang, obrolan pelan, pedagang yang sigap. Ekspektasi saya sederhana: camilan hangat, minuman khas, harga bersahabat, dan vibes malam yang santai. Lik Man memenuhi empat-empatnya.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Pengalaman Makan di Angkringan Lik Man

angkringan lik man
Kopi Joss

Saya mulai dengan secangkir kopi joss. Secara alur, pesannya cepat: pilih minum, pelayan menyiapkan kopi, lalu sepotong arang panas dicelupkan—di sinilah sensasi “joss”-nya. Aroma arang membawa nuansa smokey ringan; rasanya pahit-manis dengan aftertaste lebih lembut dibanding kopi tubruk biasa. Hangatnya pas untuk dinikmati saat malam, apalagi sambil nunggu lalu lalang kereta di kejauhan.

Untuk camilan, saya ambil nasi kucing isi sambal teri, sate usus, dan sate telur puyuh. Porsi nasi kucing kecil, tapi nasi masih hangat, sambalnya pedas-gurih, cocok dimakan selang-seling dengan sate. Sate usus punya tekstur kenyal dengan bumbu manis-gurih yang meresap; telur puyuh lembut dan gampang ludes. Kalau lagi lapar besar, tinggal tambah gorengan—tempe, tahu, atau bakwan—yang baru turun dari minyak, sehingga bagian pinggirnya masih renyah saat digigit.

Untuk Lokasi : Google Maps

Alur pesan–tunggu–saji di sini sederhana:

  1. Ambil camilan sendiri (nasi kucing/sate/gorengan) dari rak/piring.
  2. Pesan minum ke pelayan.
  3. Nikmati dulu camilan; minum datang menyusul.

Di jam ramai, waktu menunggu bisa 5–15 menit untuk minum, apalagi jika banyak yang pesan kopi joss. Itu wajar, karena proses arang memang butuh fokus agar aman dan pas panasnya.

Selama makan, pelayanan terasa cekatan dan ramah. Mereka terbiasa dengan arus tamu campuran—wisatawan, mahasiswa, sampai keluarga yang sekadar ingin mengenalkan anak pada suasana angkringan khas Jogja. Durasi saya di lokasi sekitar 45–60 menit—cukup untuk dua gelas minum dan beberapa piring camilan tanpa terasa dikejar waktu.


Informasi yang Perlu Kamu Tahu

  • Jam ramai: sekitar 20.00–23.00. Di rentang ini, kursi sering penuh dan lalu lintas pejalan kaki padat.
  • Parkir motor/mobil: tepi jalan. Datang lebih awal atau pilih kendaraan roda dua agar lebih fleksibel.
  • Sudah berdiri sejak: ±1969 (bagian dari sejarah kuliner malam Jogja yang panjang).

Kalau kamu ingin suasana lebih lengang, datang menjelang maghrib atau lewat 23.00—cenderung lebih santai untuk ngobrol lama.


FAQ – Ngobrol Singkat dengan Karyawan Angkringan Lik Man

Menu wajib coba selain kopi joss

“Coba juga teh joss kalau mau versi lebih ringan, dan jangan lupa sate usus sama telur puyuh—itu cepat habis.”

Jam paling ‘hidup’ suasana

“Biasanya selepas jam delapan malam sampai sekitar sebelas. Musik jalanan kadang lewat, obrolan makin seru.”

Pembayaran non-tunai ada?

“Utamanya tunai. Kadang ada pedagang yang sediakan QRIS, tapi siapkan uang cash ya biar aman.”

Tips duduk biar dapat tempat

“Datang lebih awal atau cari spot yang agak ke pinggir. Kalau rombongan, mending pecah jadi dua meja kecil.”

Di area Tugu, ada beberapa angkringan dengan konsep mirip. Lik Man menonjol di kopi joss arang dan reputasi lama yang sudah melekat. Pilihan camilan relatif serupa—nasi kucing, sate, gorengan—namun ritual kopi joss di sini terasa lebih “ikonik” bagi banyak orang. Soal harga, masih bersahabat dan tak jauh berbeda dengan gerobak lain. Jika kamu mengejar cerita klasik soal kopi joss, Lik Man sering jadi jawaban. Sementara, angkringan lain bisa jadi pilihan kalau kamu mencari tempat duduk lebih longgar di jam padat.

Baca Juga : Soto Kadipiro Wates: Semangkuk Hangat yang Ringan untuk Siang di Yogyakarta


Tips Kunjungan ke Angkringan Lik Man

  1. Datang sebelum jam ramai (sekitar 19.00) kalau ingin duduk santai dan foto-foto tanpa terburu-buru.
  2. Bawa uang tunai secukupnya; walaupun ada yang mulai pakai QRIS, tunai tetap paling aman.
  3. Mulai dari porsi kecil. Cicip beberapa nasi kucing dan sate dulu; kalau cocok, tambah lagi.
  4. Pilih minum hangat di malam hari—kopi joss untuk pengalaman khas, atau teh joss bila ingin lebih ringan.
  5. Kalau bawa anak, duduk di sisi yang lebih tenang dan jauh dari arang/pengolahan minuman.
  6. Jangan terburu-buru. Nikmati obrolan, dengarkan musik jalanan bila ada, dan biarkan suasana malam bekerja.

Sedikit Catatan Rasa & Tekstur

  • Kopi joss: pahit-manis, ada nuansa smokey ringan, aftertaste lebih halus daripada kopi tubruk biasa.
  • Nasi kucing: porsi kecil, nasi hangat, sambal bersahabat dengan lidah yang suka pedas-gurih.
  • Sate usus: kenyal dengan bumbu manis-gurih; enak dimakan selang-seling dengan nasi.
  • Sate telur puyuh: lembut, bumbu manis ringan.
  • Gorengan: paling nikmat saat baru turun dari wajan; renyah di pinggir, lembut di dalam.

Buat yang Pertama Kali Datang

  • Tata cara sederhana: ambil camilan sendiri, pesan minum ke pelayan.
  • Hitung porsi di akhir. Biasanya petugas akan menanyakan apa saja yang kamu ambil.
  • Jangan ragu tanya. Mau tanya rasa, kepedasan sambal, atau rekomendasi sate—mereka terbiasa melayani pengunjung baru.

Rekomendasi Pesanan

  • Paket 1 (Ringan): Kopi joss + 1 nasi kucing teri + sate usus.
  • Paket 2 (Sedikit Serius): Kopi joss + 2 nasi kucing (teri & ayam) + sate telur puyuh + 1 gorengan.
  • Paket 3 (Non-Kopi): Teh joss + 2 nasi kucing + sate kulit + tempe goreng.

Budget & Lama Nongkrong di Angkringan Lik man

  • Budget: tetap ramah kantong; kamu bisa menyesuaikan porsi dengan mudah.
  • Lama nongkrong: 45–60 menit terasa pas untuk menghabiskan 1–2 gelas minum dan beberapa camilan.

Etika Kecil yang Bikin Nyaman Bareng-Bareng

  • Jaga giliran kursi saat jam padat; banyak yang ingin merasakan suasana yang sama.
  • Rapikan piring dan tusuk sate di satu tempat; memudahkan petugas menghitung dan membersihkan.
  • Hargai pedagang keliling atau musisi jalanan yang mampir—cukup senyum atau dukung sebisanya.

Jadi “Wajib” Nggak Nih?

Wajib. Tiga alasan utamanya: vibes, murah, khas. Angkringan Lik Man (Tugu) bukan sekadar tempat makan, tapi pengalaman malam di Jogja yang ringkas, apa adanya, namun penuh karakter. Kopi joss dengan “cesss” arangnya, nasi kucing hangat, dan obrolan ringan di bawah lampu temaram—semuanya merangkum inti dari nongkrong santai yang selalu bikin kangen. Kalau kamu menginap di sekitar Tugu atau lewat malam hari, sisihkan satu jam untuk duduk di sini. Rasakan sendiri kenapa tradisi sederhana ini bertahan sejak ±1969.


Ringkas Info Penting

  • Enak dimakan saat: Malam
  • Jam ramai: 20.00–23.00
  • Parkir: Tepi jalan
  • Kelebihan: Kopi joss arang, nasi kucing
  • Kompetitor sejenis: Angkringan Tugu (lainnya)
  • Sejak: ±1969
  • Waktu tunggu: 5–15 menit
  • Durasi di lokasi: 45–60 menit

Soto Kadipiro Wates: Semangkuk Hangat yang Ringan untuk Siang di Yogyakarta

1

Day 3 – siang hari, saya berangkat dari The Phoenix Hotel dengan perut yang minta dihangatkan. Cuaca Yogyakarta cenderung terik, jadi saya mencari sesuatu yang ringan, bukan yang bikin “after-lunch slump”. Pilihan jatuh ke makanan enak Soto Kadipiro di arah Wates—tempat lama yang katanya jagonya kuah bening. Begitu duduk, saya sudah membayangkan seruputan pertama yang lembut, tidak bikin eneg, dan pas untuk mengembalikan tenaga.


Kenapa Saya Datang Soto Kadipiro wates

Ada dua alasan utama. Pertama, reputasi kuah beningnya yang terkenal ringan dan bersih—jenis soto yang mudah diterima semua anggota keluarga. Kedua, pilihan lauknya yang melimpah, dari gorengan sampai aneka sate kecil, membuat pengalaman makan terasa fleksibel. Di Yogyakarta, terutama arah barat menuju Wates, ritme makan siang sering padat karena arus kendaraan wisata dan pekerja lokal. Jadi tempat yang cepat sekaligus konsisten rasanya seperti ini terasa “aman” untuk agenda padat—makan, puas, lanjut jalan.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Pengalaman Makan Soto Kadipiro Wates

Saya datang sekitar pukul 12 lebih sedikit—masuk jam ramai. Pesanan dicatat cepat, hanya menunggu sekitar 5–10 menit hingga mangkuk pertama mendarat. Alurnya rapi: mangkuk—nasi—taburan kol dan seledri—siraman kuah—daging—percikan bawang goreng.

soto kadipiro wates
Soto Bening

Seruput pertama: kuah bening yang cenderung ringan, tidak berlemak, dan meninggalkan aftertaste gurih lembut. Ada sensasi hangat yang menenangkan, semacam “reset” untuk perut yang capek seharian. Daging di mangkuk saya empuk, potongannya tidak terlalu besar sehingga mudah dikunyah. Nasinya ditakar pas, sehingga porsi tidak terasa berlebihan—tepat untuk makan siang yang tidak mau terlalu berat.

Yang saya suka, kol yang diris tipis memberi tekstur renyah kecil-kecil, menambah kontras dalam setiap suapan. Jika kamu suka rasa yang sedikit lebih “naik,” tambahkan perasan jeruk nipis dan sambal secukupnya. Saya juga coba emping yang ringan dan tidak menyerap minyak berlebih—pelengkap yang menyenangkan tanpa mengaburkan rasa kuah.

Untuk kamu yang bertanya “enaknya kapan?”, soto gaya ini paling cocok dinikmati pagi–siang. Saat cuaca hangat, kuahnya justru terasa menyegarkan—bukan bikin bantal. Dan buat kamu yang suka efisien, ritme saji cepat di jam-jam sibuk jadi nilai plus.


Informasi Pengunjung Soto Kadipiro Wates

  • Jam ramai: 12.00–14.00. Kalau ingin lebih santai, datang sebelum jam 12 atau lewat 14.00.
  • Parkir: Tepi jalan. Sebaiknya datang dengan kendaraan kecil atau motor; untuk mobil, sabar mencari ruang kosong di bahu jalan.
  • Sejarah singkat: Jejak merek “Kadipiro” di Yogyakarta sudah melekat sejak ±1921—itu sebabnya banyak orang tua kita akrab dengan namanya.

Ngobrol Singkat dengan Karyawan Soto Kadipiro Wates

Saya sempat tanya beberapa hal yang sering ditanyakan pembaca:

  • Potongan daging favorit pelanggan?
    “Banyak yang suka campur—ada daging merah dan sedikit lemak tipis. Empuknya terasa, tapi tetap ringan.”
  • Kuah makin gurih di jam berapa?
    “Biasanya dari jelang siang ke atas rasanya lebih ‘ngumpul’ karena bahan sudah menyatu lebih lama, tapi tetap bening.”
  • Lauk pendamping yang paling laris?
    “Sate ati ampela, tempe goreng, dan perkedel. Tiga itu paling cepat habis.”
  • Ada porsi anak?
    “Bisa. Minta nasi lebih sedikit, sambal dipisah, dan daging lebih halus. Tinggal bilang di awal.”

Di Yogyakarta, kamu mungkin sudah sering dengar Soto Kadipiro dengan beberapa cabang. Cita rasanya tetap satu rumpun—kuah bening, tempo saji cepat—meski masing-masing titik kadang punya karakter kecil pada racikan bumbu harian. Bandingkan dengan Soto Bathok Mbah Katro yang populer karena penyajian “mangkok bathok” dan nuansa area utara; sensasinya berbeda: satu mengunggulkan gimmick wadah dan vibe, yang satu lagi kuat di jalur “legendaris” dan ritme cepat harian. Jika kamu khusus mengejar kuah sangat bening dan pilihan lauk banyak di etalase, titik Kadipiro arah Wates ini terasa cocok buat turun langsung—pesan, makan, lanjut agenda.


Tips Kunjungan Ke Soto Kadipiro Wates

  1. Datang lebih awal: Jika memungkinkan, tiba sebelum pukul 12. Selain kursi lebih longgar, kamu bisa memilih lauk pendamping dengan leluasa.
  2. Strategi pesan:
    • Minta porsi anak jika membawa si kecil—nasi lebih sedikit, sambal dipisah.
    • Tambahkan perkedel atau sate ati ampela untuk variasi tekstur tanpa bikin kuah “kalah suara.”
    • Kalau suka kuah lebih hidup, jeruk nipis secukupnya; sambal seperlunya agar karakter bening tetap terasa.
  3. Parkir & waktu: Karena parkir tepi jalan, lebih nyaman datang dengan motor atau gunakan mobil kecil. Hindari titik paling padat antara 12.00–14.00 bila tidak suka menunggu.
  4. Bawa keluarga: Jenis soto bening umumnya ramah untuk banyak selera. Diskusikan opsi porsi, dan minta daging dipotong lebih kecil untuk anak.
  5. Penuhi agenda siang: Estimasi total waktu di tempat 30–40 menit—cukup untuk makan santai tapi tidak mengganggu rencana berikutnya.

Kata “ringan” sering disalahartikan sebagai kurang rasa. Di sini, “ringan” berarti bersih dan tertata, bukan hambar. Gurihnya bukan tipe yang menempel lama di lidah; ia menyapa, lalu menutup pelan. Bawang goreng memberi wangi tanpa mendominasi, sementara seledri dan kol mengimbangi dengan sentuhan segar. Bagi saya, ini soto yang mudah “klop” untuk perut yang sensitif atau sedang tidak ingin makanan terlalu padat.


Porsinya moderat—nasi cukup, daging tidak berlebihan, dan sayur menambah tinggi mangkuk. Ini membantu kita menghindari kantuk setelah makan siang. Tekstur daging cenderung empuk, bukan tipe yang harus dikunyah berkali-kali. Kuahnya jernih sehingga tidak meninggalkan lapisan minyak di mulut. Untuk yang suka crunch, tambahkan emping: renyahnya bersih, tidak berminyak, dan jadi “jembatan” antara suapan kuah dan nasi.


Meski ramai, antrean berjalan cepat karena sistem yang rapi. Kamu ambil tempat, sampaikan pesanan, tunggu 5–10 menit, lalu makanan datang dalam keadaan hangat. Lauk pendamping tertata di etalase sehingga mudah dilirik sebelum memilih. Bagi yang membawa anak, ada baiknya pesan porsi anak sejak awal agar dapur langsung menyesuaikan.


Saya tidak mencantumkan angka karena bisa berubah, namun secara nilai, pengalaman makan di sini terasa sepadan: rasa konsisten, tempo saji cepat, dan fleksibilitas lauk. Ini kategori tempat yang “tidak ribet,” sehingga cocok untuk perjalanan siang yang waktunya mepet.


Area saji bergerak cepat, tetapi meja dibersihkan bergilir sehingga tamu baru mendapat tempat yang siap pakai. Kuah bening memperlihatkan kehati-hatian dalam pengolahan; tidak ada aroma menyengat atau rasa getir. Bila kamu sensitif terhadap minyak, soto bergaya seperti ini akan terasa bersahabat.

Untuk Lokasi : Google Maps


Rekomendasi Urutan Pesan

  1. Soto kuah bening + nasi
  2. Perkedel (untuk tekstur halus)
  3. Emping (untuk renyah yang ringan)
  4. Sate ati ampela (opsional, untuk aksen gurih)
  5. Jeruk nipis & sambal (secukupnya, last touch menyesuaikan selera)

Kalau kebetulan datang di puncak jam makan siang dan tempat penuh, kamu punya dua opsi: sabar menunggu meja kosong (biasanya rotasinya cepat) atau melipir ke cabang Kadipiro lain yang tidak terlalu jauh. Namun, karakter setiap titik bisa punya nuansa kecil yang berbeda—seru juga kalau kamu suka food trail.


Kalau kamu lebih suka soto dengan kuah pekat dan bumbu dominan, gaya bening ini mungkin terasa kalem. Solusinya: minta sambal sedikit lebih banyak atau tambahkan perasan jeruk nipis untuk mengangkat profil rasa. Tetap hati-hati agar tidak menutupi karakter utamanya.


Wajib. Tiga kata kunci saya: bening, ringan, cepat. Ini mangkuk soto yang bisa kamu andalkan ketika butuh makan siang tanpa drama, rasanya ramah untuk banyak selera, dan ritmenya cocok untuk itinerary padat. Bila kamu menginap di pusat kota seperti sekitar Tugu atau The Phoenix Hotel, rute ke arah Wates ini juga menyenangkan—sekali jalan, makan beres, lanjut eksplor.

Baca Juga : Bakmi Jawa di Bakmi Kadin Kotabaru: Malam Hangat dengan Wajan Arang & Telur Bebek


  • Enaknya dimakan: Pagi–siang
  • Jam ramai: 12.00–14.00
  • Parkir: Tepi jalan
  • Kelebihan: Kuah bening ringan, lauk pendamping melimpah
  • Kompetitor sejenis: Soto Bathok Mbah Katro, cabang Kadipiro lain
  • Sejarah: ±1921 (jejak merek “Kadipiro” di Yogyakarta)
  • Waktu tunggu: 5–10 menit
  • Waktu di lokasi: 30–40 menit
  • Ngobrol staf (inti jawaban): daging campur favorit, kuah makin “ngumpul” jelang siang, lauk laris ati ampela–perkedel–tempe, porsi anak bisa diminta

FAQ – Pertanyaan Yang Sering Muncul

Apakah bisa minta sambal terpisah?

Bisa. Bahkan lebih nyaman untuk yang ingin mengontrol tingkat pedas.

Cocok untuk anak?

Cocok. Kuahnya halus; tinggal minta porsi lebih kecil dan daging dipotong kecil.

Perlu reservasi?

Umumnya tidak. Datang lebih awal supaya duduk lebih leluasa.

Ada pilihan tanpa nasi?

Bisa. Minta kuah dan daging saja untuk makan sangat ringan.

Rindu Rasa Kopitiam di Jakarta: Kepincut Menu Curry Mie dan Misua di AMAH Kopitown

0

Seminggu lalu saya liburan di Batam dan tiap pagi mampir ke kedai kopitiam — menu set andalannya selalu sama: roti kaya toast, telur setengah matang, dan teh C dan menu menu chinese food gitu. Pulang ke Jakarta, rasa rindu itu menempel seperti wangi kopi panas. Saat melihat foto-foto menu AMAH Kopitown, memori lidah saya langsung “on”. Saya pun ingin mencoba beberapa menunya dan merangkum pengalaman lengkapnya di sini—supaya kamu yang mencari Kopitiam terdekat bisa punya gambaran sebelum datang ke AMAH Kopitown.

“Berawal dari kecintaan terhadap budaya kopi tradisional, Amah Kopitown menggabungkan sentuhan klasik ala Kopitiam dengan atmosfer kekinian khas kopi Jakarta.”

Saya suka kalimat yang di sematkan oleh AMAH Kopitown di websitenya karena terasa tepat sasaran. Buat saya, kopitiam itu bukan sekadar tempat minum kopi, tapi ritme: duduk, pesan, menunggu, lalu menikmati—sambil mendengar denting sendok di gelas. AMAH membaca ritme itu, lalu menautkannya ke kebiasaan ngopi di Jakarta: ambience lebih modern, plating rapi, pilihan menu lebih variatif. Tradisi dijaga, pengalaman dibuat relevan.


Mengapa Kopitiam Selalu Dirindukan?

Kopitiam punya kejujuran rasa. Bahan sederhana, eksekusi rapi, dan tempo yang pas. Saat rindu, yang saya cari bukan bumbu yang “heboh”, melainkan kenyamanan—kuah hangat, mie matang al dente, wangi bawang goreng, dan kopi robusta yang tidak malu-malu. Di AMAH, kesan itu muncul dari cara mereka memperlakukan tekstur dan keseimbangan rasa: ada yang ringan untuk sarapan, ada yang mantap untuk makan siang, dan ada yang “nempel” buat pencinta kari.


Amah Kopitown: Klasik Ketemu Kekinian

AMAH Kopitown tetap menampilkan ikon-ikon kopitiam (kopi tradisional, teh susu, roti panggang), tapi mengembangkan sisi “wet kitchen”-nya. Akhirnya, porsi pengalaman jadi lengkap—kamu bisa datang pagi untuk menu yang hangat dan ringan, lalu kembali siang/sore untuk sajian yang lebih berbumbu. Dari plating di foto sampai urutan saji yang saya alami, standar kebersihan dan detailnya terasa diperhatikan.


Curry Mie Amah — Kuah Kari Lembut, Topping Berkarakter

First impression: semangkuk mie dengan kuah kari berwarna oranye lembut, bertabur mie renyah, irisan bawang merah segar, dan potongan ayam panggang yang terlihat karamellis. Di sisi mangkuk, ada lembaran daun aromatik yang memberi kesan segar.

Amah Kopitown
Amah Kopitown

Rasa & tekstur:

  • Kuah: creamy tanpa berlebihan, ada “kick” rempah yang hangat, semriwing santan, dan rasa pedas yang ramah.
  • Mie: matang tepat, menyerap kuah tanpa kehilangan kekenyalannya.
  • Ayam panggang: bagian pinggir sedikit charred—memberi smokiness yang menyatu dengan kari, sekaligus menambah kontras gurih.
  • Topping renyah: mie goreng tipis di atasnya memberi tekstur kontras yang menyenangkan ketika diseruput bersama kuah.

Tips makan: aduk kuah sebentar agar minyak dan rempah menyatu, lalu sisipkan bawang merah segar untuk efek crunchy-fresh. Kalau ada jeruk limau di meja, teteskan sedikit untuk mencerahkan rasa. Pasangannya? Teh hangat atau kopi campuran susu kental manis.

Untuk siapa: cocok untuk kamu yang ingin mangkuk kari yang “halus”, bukan tipe yang super pedas. Porsi pas untuk makan siang.


Misua Amah — Hangat, Ringan, dan Nostalgik

Semangkuk misua selalu mengingatkan saya pada menu rumah: kuah bening, sayur, dan aroma bawang yang ramah. Di AMAH, misua disajikan dengan sayur hijau segar, tumisan sayur asin yang memberi sensasi asam tipis, dan taburan irisan bawang daun yang digoreng kering.

Misua
Misua

Rasa & tekstur:

  • Kuah: jernih, gurih ringan, ada sapuan umami dari sayur asin.
  • Misua: lembut dan mudah diseruput; tidak mudah putus.
  • Sayur asin: menambah kedalaman rasa tanpa mendominasi.

Kenapa menarik: ini tipe hidangan yang kamu cari saat butuh “comfort bowl”—pagi hari, sedang capek, atau ingin jeda dari bumbu yang berat. Anak-anak dan orang tua biasanya cocok dengan profil rasa seperti ini.

Tips: misua menyerap kuah cepat; nikmati selagi hangat. Kamu bisa minta cabai iris terpisah kalau ingin sedikit “nendang”.


Chinese Kari Beef — Kari Kental, Jeruk Limau, dan Tekstur “Seared”

Menu ini tampil unik: seperti “pancake” tebal yang disarankan disantap dengan kuah kari di sekelilingnya. Di atasnya ada bawang goreng, dan sepotong jeruk limau kecil sebagai aksen.

Curry Beef
Curry Beef

Rasa & tekstur:

  • Permukaan: efek searing memberi aroma panggang dan tekstur luar yang padat.
  • Isian daging: gurih—lebih ke rasa “beefy” yang jujur, bukan tipe rempah berlebihan.
  • Kuah kari: lebih kental dari versi mie, sehingga fungsinya seperti “saus mahal” yang membalut suapan.

Cara menikmati: potong sedikit bagian tepi, celupkan ke kari, lalu beri perasan limau secukupnya. Asam dari limau membersihkan palate dan membuat suapan berikutnya terasa baru lagi.

Catatan pairing: nikmat dengan es teh susu atau kopi dingin; suhu minuman membantu menyeimbangkan kentalnya kari.


Bonus 3 Menu: Mie XO, Chicken Karage, dan Char Keow Teow Penang

Mie XO — Umami Wok & Topping Renyah

Satu piring mie tumis dengan udang, irisan cumi, tauge, dan taburan mie goreng tipis. Saus XO memberi profil asin-umami dari seafood yang khas. Daya tariknya ada pada “wok hei”—aroma asap tipis dari tumisan panas. Rasanya padat tapi tidak bikin enek. Cocok untuk kamu yang suka tekstur kontras: mie kenyal, topping renyah, dan udang yang juicy.

Tips: aduk rata bagian atas sebelum makan agar mie renyah tidak “kabur” di satu sisi saja. Tambah cabai potong kalau ingin pedas.

Chicken Karage — Kulit Renyah, Saus Gurih

Potongan ayam goreng tepung (gaya karaage) dengan saus gurih yang cenderung savory-spicy ringan. Di atasnya ada irisan daun bawang halus yang memberi wangi segar. Kulitnya renyah, dagingnya juicy. Disantap hangat, menu ini terasa “aman” untuk semua umur.

Tips penyajian: santap cepat—kulit renyah paling enak di menit-menit awal. Cocok sebagai pendamping kopi hitam atau teh tawar.

Char Keow Teow Penang — Lebar, Smoky, dan Lincah

Pecinta mie lebar bakal senang: tekstur kway teow-nya lembut, bertemu telur orak-arik, tauge, dan bumbu tumis yang wangi. Yang dicari tentu wok hei—aroma smoky singkat hasil api besar. Ada jeruk limau kecil di sisi piring; peras sedikit untuk menciptakan kontras asam yang mencerahkan. Ini type menu yang menyenangkan untuk sharing.


Alur Pesan–Tunggu–Saji: Apa yang Perlu Kamu Tahu

Tips dari saya:

  1. Datang lebih awal di jam makan siang atau sore supaya dapat tempat duduk nyaman. Kepoin Websitenya di Kopitiam.it.com
  2. Pesan minuman dulu, lalu pilih menu mangkuk vs tumisan—mangkuk (misua, curry mie) biasanya keluar sedikit lebih cepat.
  3. Cek antrian: bila ramai, kirim pesanan kelompok sekaligus agar keluarnya berdekatan.
  4. Tanyakan tingkat pedas dan kondimen yang tersedia; beberapa menu akan naik kelas hanya karena tambahan jeruk limau atau cabai iris.
  5. Transportasi & parkir: tergantung area, opsi ride-hailing sering lebih praktis pada jam sibuk.

Semua tips di atas sifatnya umum dan relevan untuk banyak kedai bergaya kopitiam di Jakarta, termasuk AMAH.


Nilai Porsi & Kualitas

Saya tidak menuliskan angka harga karena bisa berubah saat kamu datang. Namun, dari sisi value, AMAH bermain di kualitas rasa yang konsisten dan plating bersih. Porsi kari dan mie tidak “pelit topping”—kamu mendapatkan tekstur renyah, segar, dan protein yang terasa. Misua melayani kebutuhan “comfort”, sementara Kari Beef dan Mie XO menutup celah buat penikmat umami yang lebih tegas.


Catatan Rasa: Ringkasan Cepat

  • Curry Mie Amah: kuah creamy, pedas ramah, ayam panggang smoky, ada topping renyah.
  • Misua Amah: kuah bening, gurih ringan, nyaman untuk sarapan atau saat ingin yang sederhana.
  • Chinese Kari Beef: kaya bumbu, tekstur seared di luar, asam limau bikin nagih.
  • Mie XO: umami laut, wok hei terasa, cocok untuk penggemar tumisan.
  • Chicken Karage: renyah-juicy, saus gurih, aman untuk semua.
  • Char Keow Teow Penang: mie lebar lembut, smoky, segar oleh jeruk limau.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa perbedaan kopitiam dan coffee shop biasa?
Kopitiam berangkat dari tradisi kopi Asia Tenggara: racikan kopi kuat, susu kental manis, teh C, plus menu sarapan/tumis sederhana yang mengutamakan kenyamanan rasa. Coffee shop modern lebih fokus pada single origin, teknik seduh, dan pastry barat. AMAH mencoba menautkan keduanya.

Bagaimana mencari Kopitiam terdekat?
Gunakan kata kunci “Kopitiam terdekat” di peta atau mesin telusur, lalu cek foto terbaru, jam buka, dan ulasan. Untuk AMAH, pantau kanal resmi Amah Kopitown bisa memengaruhi jam operasional.

Menu mana yang aman untuk pertama kali?
Mulai dari Misua Amah (ringan) atau Curry Mie Amah (lebih berbumbu tapi bersahabat). Jika kamu suka rasa tegas, pilih Chinese Kari Beef atau Mie XO.


Jadi Wajib Nggak Nih?

Buat saya, Kopitiam Terdekat AMAH Kopitown menarik karena tidak mengandalkan nostalgia semata. Mereka merapikan tradisi—dari kuah, mie, hingga tumisan—lalu mempresentasikannya dengan gaya yang rapi dan kontemporer. Curry Mie Amah memberikan kenyamanan berlapis tekstur; Misua Amah adalah pelukan hangat di hari sibuk; dan Chinese Kari Beef jadi opsi kari yang “berkarakter” berkat tekstur seared dan sentuhan limau. Ditambah tiga menu bonus yang memperluas pilihan, kedai ini layak masuk daftar kunjungan, apalagi buat kamu yang kangen suasana kopitiam namun tetap ingin ambience Jakarta yang kekinian.

Kalau kamu baru pulang dari Batam/Singapura seperti saya—dan lidah lagi mencari titik balik ke rasa-rasa kopitiam—AMAH patut dicoba. Datang lebih awal, cek antrian, dan jangan lupa pesan minuman klasiknya. Kadang, yang kita rindukan bukan sekadar rasa, tapi ritme sederhana yang membuat hari terasa utuh.


Ringkasan Rekomendasi Cepat

  • Andalan kuah: Curry Mie Amah
  • Comfort bowl: Misua Amah
  • Kari yang berani: Chinese Kari Beef
  • Pecinta wok hei: Mie XO & Char Keow Teow Penang
  • Snack gurih renyah: Chicken Karage
  • Minuman pendamping: Teh C, kopi susu kental manis

Bakmi Jawa di Bakmi Kadin Kotabaru: Malam Hangat dengan Wajan Arang & Telur Bebek

1

Day 2 — malam hari, saya melipir dari Hotel Tentrem setelah seharian keliling Yogyakarta. Lapar berat muncul begitu keluar parkiran; rasanya butuh mangkuk hangat yang serius mengisi perut. Saya menuju Bakmi Kadin di Kotabaru—nama yang sering direkomendasikan untuk Bakmi Jawa klasik. Di depan wajan arang yang berasap halus, saya berdiri, menunggu giliran sambil membayangkan kuah gurih dan telur bebeknya.


Kenapa Saya Datang ke Bakmi Kadin

Saya memilih Bakmi Kadin karena dua alasan utama: metode masak dengan arang dan opsi telur bebek. Keduanya bukan sekadar “gaya lama”—ini faktor yang memengaruhi aroma, rasa, dan tekstur. Arang menambah sentuhan “smoky” yang tidak agresif, sementara telur bebek memberi karakter gurih-lembut pada kuah dan isian. Kotabaru juga lokasinya strategis; mudah diakses dari area pusat kota dan hotel-hotel di sekitarnya. Untuk kamu yang berniat makan malam setelah aktivitas padat, ini tipe tempat yang sanggup menghadirkan kehangatan tanpa banyak basa-basi—datang, antre, nikmati, pulang dengan perut puas.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Pengalaman Makan Bakmi Kadin

Begitu sampai, antrean sudah rapi. Malam memang waktu emas untuk Bakmi Jawa—enak dimakan saat malam, dan di sini itu terasa jelas: orang-orang datang untuk makan pelan, ngobrol secukupnya, dan menutup hari dengan sesuatu yang hangat. Saya menunggu sekitar 20–25 menit (kisaran waktu menunggu pesanan di sini memang 15–30 menit, tergantung ramai-tidaknya). Aroma arang mengalun dari barisan wajan, dan itu jadi “pembuka” yang menyenangkan sebelum makanan tiba.

bakmi kadin
Bakmi Kadin

Saya pesan bakmi godhog telur bebek. Kuahnya tampil bening keemasan, dengan lapisan minyak tipis yang memantulkan cahaya lampu. Isian klasik hadir lengkap: mi kuning yang empuk, suwiran ayam, sedikit kol, tomat, seledri, dan tentu telur bebek yang menyerahkan rasa gurih lembut dan tekstur lebih “padat” dibanding telur ayam. Sedikit lada dan bawang goreng menambah aromatik, sementara asap arang—yang terbawa dari proses menumis awal—memberi sentuhan smoky halus di belakang.

Rasa & tekstur:

  • Kuah: gurih “kalduan”, bukan tipe yang menonjok dengan bumbu berlebihan; aftertaste bersih, tidak bikin enek.
  • Mi: matang dengan presisi; tidak lembek, tetap punya gigitan.
  • Telur bebek: kuning telur terasa lebih “berisi” dan kaya; memberi tubuh pada kuah.
  • Smoky-arang: bukan rasa gosong, melainkan aroma halus yang muncul setiap sesekali di suapan.

Jika kamu tipe yang suka profil rasa lebih tegas, tambahkan sambal dan sedikit kecap. Saya menambahkan sambal setengah sendok—cukup mengangkat kuah tanpa menenggelamkan karakter dasarnya. Porsi bakmi godhog di sini termasuk “pas kenyang”; untuk saya yang lapar berat setelah keliling kota, semangkuk ini terasa menenangkan.

Total durasi di lokasi saya 50 menit: antre, masak, santap, dan istirahat sebentar. Alurnya mengalir natural: datang—catat pesanan—menunggu di kursi panjang—pesanan diantar—habis makan langsung bayar di kasir.


Informasi Praktis yang Perlu Kamu Tahu

  • Enak dimakan saat: Malam.
  • Jam ramai: 19.00–22.00 adalah puncak kunjungan; antrean biasanya lebih panjang di rentang ini.
  • Parkir motor/mobil: Tepi jalan. Datang sedikit lebih awal agar dapat posisi lebih nyaman.
  • Sejarah singkat: Sudah berdiri sejak ±1947, menjadikannya salah satu rujukan Bakmi Jawa tua di Yogyakarta.
  • Waktu menunggu pesanan: Rata-rata 15–30 menit, tergantung antrean dan jenis pesanan.
  • Durasi kunjungan ideal: 40–60 menit cukup untuk antre, makan, dan rehat sejenak.

Ngobrol Singkat dengan Karyawan Bakmi Kadin

Saya sempat berbincang singkat untuk memastikan beberapa hal yang sering ditanyakan pengunjung. Berikut rangkumannya:

  • Bedanya bakmi godhog vs bakmi goreng?
    Godhog memakai kuah kaldu sehingga rasanya lebih lembut-gurih; goreng tanpa kuah, bumbunya lebih menempel di mi dengan sentuhan manis-gurih.
  • Pakai arang terus?
    Proses masak utama mengandalkan wajan di atas arang untuk menjaga aroma khas. Malam itu saya memang melihat deretan wajan arang bekerja tanpa henti.
  • Telur bebek selalu tersedia?
    Biasanya tersedia, tetapi saat jam puncak ada kemungkinan habis cepat. Kalau kamu wajib pakai telur bebek, sebaiknya datang lebih awal.
  • Kapan best time datang?
    Umumnya sebelum 19.00 atau setelah 21.00 antrean lebih bersahabat, terutama bila kamu datang rombongan atau membawa anak.

  • Bakmi Kadin (Kotabaru): kuat di pakem klasik—wajan arang dan telur bebek memberikan pengalaman cita rasa yang rapi dan bersih. Lokasi strategis, cocok untuk rute kuliner malam dari pusat kota.
  • Bakmi Mbah Gito: banyak orang datang untuk nuansa tempat yang unik dan pengalaman ruang yang khas. Rasanya juga dicari, namun suasana menjadi magnet tambahan yang berbeda dari Kadin.
  • Bakmi Pak Pele: populer untuk kuliner malam juga, dengan karakter bumbu yang digemari banyak orang. Lokasi yang ikonik sering menarik antrean wisatawan.

Semua punya penggemar masing-masing. Kalau kamu ingin profil smoky halus dari arang plus opsi telur bebek yang memperkaya kuah, Kadin terasa paling “tepat sasaran”.

Baca Juga : Warung Ndeso di Yogyakarta: Sarapan “Rumahan” di Warung Kopi Klotok (Pakem)


Tips Kunjungan ke Bakmi Kadin

  1. Datang di luar jam puncak: Upayakan tiba sebelum 19.00 atau setelah 21.00 untuk mengurangi antre.
  2. Langsung sebut preferensi: Ingin telur bebek, level pedas, atau tambahan bawang goreng—sampaikan dari awal biar masaknya tepat.
  3. Strategi pesan:
    • Godhog untuk kuah hangat yang menenangkan.
    • Goreng saat kamu ingin rasa menempel di mi dengan sedikit karamelisasi bumbu.
    • Minta suwiran lebih jika suka tekstur ayam lebih terasa.
  4. Bawa anak? Pilih meja agak ke pinggir supaya tidak terlalu dekat dengan barisan wajan arang (lebih aman dan nyaman).
  5. Parkir tepi jalan: Bawa uang kecil untuk juru parkir setempat dan pilih sisi jalan yang tidak mengganggu alur kendaraan.
  6. Siapkan waktu: Rerata 15–30 menit untuk antre/masak—anggap sebagai bagian dari pengalaman melihat aksi wajan arang.
  7. Porsi & pendamping: Jika perut sangat lapar, tambahkan tahu/tempe bacem atau sate-satean (bila tersedia) agar lebih lengkap.

Sedikit Membaca Rasa

  • Arang: tahap tumis di atas arang membuat bumbu dasar lebih “matang” dan aromatik. Api arang cenderung stabil, memberi kesempatan bumbu melepas wangi secara bertahap—hasilnya smoky yang tidak mendominasi.
  • Telur bebek: punya kuning telur lebih kaya sehingga ketika diracik dalam kuah atau diorak-arik, dia menyumbang rasa gurih berlapis sekaligus sensasi “licin” yang menyenangkan di lidah. Kombinasi ini menjadikan semangkuk bakmi yang tidak hanya enak saat suapan pertama, tetapi juga punya aftertaste bersih—kamu berhenti makan bukan karena enek, tapi karena mangkuknya habis.

FAQ – Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apakah wajib pesan telur bebek?

Tidak wajib, tapi saya rekomendasikan untuk pengalaman rasa yang lebih kaya.

Porsi kenyang nggak?

Untuk makan malam, satu porsi cukup mengenyangkan.

Bisa minta pedas?

Bisa. Minta sambal terpisah untuk kontrol rasa

Bawa rombongan?

Bisa, tapi datang lebih awal dan siap antre lebih lama di jam puncak.

Payment?

Siapkan uang tunai; jika tersedia opsi nontunai, anggap bonus—jangan bergantung.


  • Tim Godhog: Kamu suka kuah yang meresap pelan, hangat, dan menenangkan. Cocok dimakan pelan-pelan sambil ngobrol.
  • Tim Goreng: Kamu suka karakter bumbu yang lebih menonjol melekat di mi, dengan sensasi sedikit smoky yang terasa lebih jelas.
    Kalau ragu, datang berdua dan pesan dua gaya masak—tukar suapan—biar kamu bisa memutuskan timmu sendiri.

Alur Santap yang Nyaman di Bakmi Kadin

  1. Tiba – ambil posisi antre: Pastikan pesanan jelas.
  2. Pantau ritme wajan: Menyenangkan lihat bumbu ditumis di atas arang; ini bagian dari pengalaman.
  3. Saat makanan datang: Cicip kuah dulu (untuk godhog) sebelum menambah sambal atau kecap—kenali “rasa asli” di awal.
  4. Akhiri dengan tenang: Setelah selesai, beri ruang untuk pengunjung berikutnya—perputaran meja di jam puncak cukup cepat.

  • Angle foto: Ambil dari sisi wajan arang untuk menangkap asap tipis—cerita “proses” akan memperkuat narasi.
  • Detail plating: Sorot kuning telur bebek dan irisan tomat/seledri yang memberi warna.
  • Storytelling: Tekankan “malam—hangat—smoky”—tiga kata kunci ini mudah melekat di ingatan audiens.

Wajib. Tiga klue kunci: smoky, gurih, legenda. Bakmi Kadin mengemas pengalaman Bakmi Jawa yang jujur pada sumber rasanya: wajan arang dan telur bebek. Buat kamu yang mencari makan malam hangat setelah seharian keliling Yogyakarta, semangkuk di sini rasanya akan menutup hari dengan pas—tanpa gimmick, hanya rasa yang diolah sabar dan teliti.


Data Ringkas

  • Jenis kuliner: Bakmi Jawa (godhog/goreng)
  • Lokasi: Kotabaru, mudah dicapai dari pusat kota
  • Andalan: Dimasak arang, opsi telur bebek
  • Jam ramai: 19.00–22.00
  • Parkir: Tepi jalan
  • Sejak: ±1947
  • Waktu tunggu: 15–30 menit
  • Durasi di lokasi: 40–60 menit
  • Best time: sebelum 19.00 atau setelah 21.00

Warung Ndeso di Yogyakarta: Sarapan “Rumahan” di Warung Kopi Klotok (Pakem)

1

Day 2 – Pagi dari Hotel Tentrem; habis lari ke utara. Saya menyalakan motor, udara Kaliurang masih dingin dan menenangkan. Lapar saya ringan saja, lebih ke ingin sarapan yang akrab di lidah dan nyaman untuk perut kosong. Di kepala sudah terbayang warung ndeso dengan wajan besar, nasi hangat, dan kuah lodeh bening. Pilihan saya jatuh ke Warung Kopi Klotok di Pakem, tempat yang sering disebut teman-teman kalau butuh sarapan rumahan dengan suasana sawah.


Kenapa Saya Datang Ke Warung Kopi Klotok

Yogyakarta selalu punya cara merangkul orang yang sedang mencari ketenangan. Warung Kopi Klotok menawarkan dua hal yang saya cari setelah lari pagi: lauk kampung prasmanan yang selow—biasanya ada olahan rumahan seperti lodeh, tumisan, tempe/ayam goreng, telur dadar tebal—serta view sawah yang bikin mulut mengunyah lebih pelan. Di pagi seperti ini, saya tidak butuh sesuatu yang heboh; saya butuh rasa yang jujur dan porsi yang bisa diatur sendiri. Harapannya sederhana: sarapan Pagi–Siang yang menenangkan, dengan jeda kecil untuk duduk menatap padi bergoyang.

Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur


Begitu sampai, suasananya sudah ramai tapi tertib. Alur di Warung Kopi Klotok biasanya begini: parkir dulu (area pekarangan luas membuat manuver mobil dan motor relatif mudah), lalu masuk ke area warung—ambil nampan/piring, pilih lauk prasmanan, ambil nasi sesuai porsi yang kamu mau, lanjut ke kasir untuk pembayaran, lalu cari tempat duduk. Karena jam 08.00–10.00 itu puncak ramainya, wajar kalau ada waktu tunggu 20–40 menit sebelum benar-benar bisa makan tenang; tapi arusnya mengalir.

warung kopi klotok
Warung kopi klotok

Saya mulai dengan nasi hangat yang tidak terlalu padat—cukup untuk mengganjal. Sayur lodeh di sini cenderung ringan: kuahnya tidak terlalu kental, santannya lembut, bumbu bawang merah-putih terasa seimbang, dan aftertaste-nya bersih. Telur dadar tebal memberi kontras tekstur—bagian pinggirnya kering tipis, tengahnya masih lembut. Tempe goreng renyah di luar, empuk di dalam. Kalau kamu suka rasa yang lebih nendang, sambal bisa jadi “pijakan terakhir” setelah separuh porsi habis, supaya lidah tetap bisa membaca karakter asli lauknya sejak suapan awal.

Untuk Lokasi : Google Maps

Kapan paling nikmat? Buat saya, Pagi–Siang adalah waktu ideal. Di pagi hari, kuah lodeh terasa menenangkan; makin siang, porsi bisa ditambah sesuai aktivitas setelahnya. Durasi saya di lokasi 45–60 menit—cukup untuk antre, memilih lauk, menikmati sarapan, dan foto sebentar dengan latar sawah.

  • Pesan: pilih lauk di meja prasmanan (jangan ragu minta porsi kecil, apalagi untuk anak).
  • Tunggu: kamu mungkin menunggu 20–40 menit saat ramai. Manfaatkan waktu untuk memesan kopi klotok hangat atau teh panas.
  • Saji: setelah duduk, ritme makan otomatis melambat. Suara sendok di piring seng, aroma kopi tubruk, dan angin sawah jadi latar yang menyatu.

  • Jam Ramai: 08.00–10.00. Kalau bisa, datang sedikit lebih awal atau agak lewat jam 10 untuk suasana lebih santai.
  • Parkir Motor/Mobil: Luas (area pekarangan), tetap siapkan uang kecil untuk juru parkir.
  • Sudah Berdiri Sejak: ±2015, tapi nuansa “rumahan” dan cara masaknya membuatnya terasa seperti warung lama yang tumbuh natural di kampung.

FAQ – Ngobrol Singkat dengan Karyawan Warung Kopi Klotok

Saya sempat tanya beberapa hal ke salah satu karyawan di dekat area kasir, dan inilah rangkuman jawabannya:

Menu paling cepat habis

“Biasanya telur dadar tebal dan lodeh yang duluan habis saat akhir pekan.”

Jam antre terpadat

Sekitar 08.00–10.00. Kalau rombongan, lebih baik datang lebih pagi.”

Bisa reservasi rombongan?

Reservasi terbatas dan menyesuaikan kondisi. Untuk rombongan besar, hubungi jauh hari.”

Tips dapat tempat duduk cepat

Bagi tugas—sebagian ambil lauk, sebagian cari meja. Jangan ragu tanya ketersediaan ke staf.”


Warung Kopi Klotok unggul di suasana sawah dan ritme makan yang pelan. Lauk-lauknya cenderung sederhana tapi rapi, cocok untuk yang ingin sarapan tanpa kejutan rasa berlebihan. Warung Kopi Merapi dan warung ndeso lain memberi opsi suasana dan variasi lauk yang bisa jadi lebih berkarakter atau lebih dekat dengan area wisata tertentu. Kalau kamu ingin panorama sawah yang lapang plus pola prasmanan yang mengalir, Klotok sangat menarik. Kalau kebutuhanmu lebih ke akses cepat dari jalur wisata berbeda atau preferensi rasa lain, warung ndeso lain bisa kamu jelajahi setelah ini. Intinya, bukan soal siapa yang “lebih enak,” melainkan mana yang paling pas untuk mood pagimu.

Baca Juga : Bakpia Pathok 25: Oleh-Oleh Bakpia Paling Praktis dari Yogyakarta


  1. Datang Lebih Pagi: Tiba sekitar 07.00–07.30 saat weekdays, atau sedikit sebelum 08.00 saat weekend. Kamu akan lebih cepat dapat tempat dan pilihan lauk masih lengkap.
  2. Bagi Peran Saat Masuk: Satu orang mengantre lauk, satu lagi mengamankan tempat duduk. Komunikasi singkat mempersingkat waktu tunggu.
  3. Atur Porsi untuk Anak: Ambil nasi setengah, pilih lauk berkuah ringan (misal lodeh), sambal belakangan. Suhu kuah bisa kamu aduk dengan nasi agar lebih cepat hangat-nyaman.
  4. Mulai “Polos” Dulu: Coba dulu lauk tanpa tambahan sambal/kecap. Setelah separuh porsi, baru tambah bumbu sesuai selera.
  5. Rencanakan Durasi 45–60 Menit: Termasuk antre, makan, dan foto. Jangan buru-buru; bagian terbaik dari Klotok adalah ritme pelan itu sendiri.
  6. Siapkan Uang Tunai: Walau banyak tempat sudah cashless, bawa uang tunai selalu membantu di area warung tradisional.
  7. Hargai Ruang Bersama: Selesai makan, segera kosongkan meja. Arus pengunjung akan lebih lancar dan suasana tetap menyenangkan.

  • Aroma: Kopi tubruk segar, wangi bawang merah-putih dari dapur, serta samar wangi santan hangat.
  • Tekstur: Nasi pulen, lodeh halus, telur dadar tebal dengan tepi sedikit kering untuk kontras gigitan, tempe renyah.
  • Aftertaste: Bersih dan tidak berlebihan; cocok untuk melanjutkan aktivitas jalan-jalan ke area Pakem/Kaliurang.
  • Suasana: Papan kayu, panci besar, suara wajan—semua menyatu dengan pemandangan sawah yang jarang dimiliki warung kota.

Sarapan di Klotok ramah buat keluarga. Porsi fleksibel, lauk mudah diterima anak, dan ruang terbuka terasa menyenangkan. Kalau anakmu sensitif minyak atau santan:

  • Pilih lauk tumis dan sayur berkuah ringan.
  • Pisahkan sambal, suapi perlahan dengan nasi hangat.
  • Pilih meja dekat jendela agar mereka bisa melihat sawah—anak cenderung makan lebih fokus saat suasananya menarik.

Di jam padat, ketertiban antre sangat membantu. Staf terbiasa mengarahkan alur agar proses ambil lauk–bayar–duduk tidak saling menunggu terlalu lama. Hal kecil seperti mengosongkan meja cepat dan memberi tahu menu yang baru matang membuat ritme warung terjaga. Buat saya, ini nilai plus: ramai tapi tetap rapi.


Dari Kopi Klotok, kamu bisa lanjut ke Kaliurang bawah untuk udara sejuk, mampir kebun buah/warung sayur, atau sekadar berhenti di spot foto sawah. Tidak ada kejar-kejaran waktu; biarkan sarapan rumahan ini jadi pijakan untuk hari yang lebih panjang.


Wajib. Tiga alasannya jelas: rumahan, porsi, suasana.

  • Rumahan, karena rasa lodeh, tumis, dan telur dadar tebalnya mengutamakan kenyamanan mulut sejak suapan pertama.
  • Porsi, sebab kamu yang menentukan—pas untuk Pagi–Siang, dari “iseng sarapan” sampai “makan serius.”
  • Suasana, karena view sawah dan ritme warung yang pelan membantu badan dan pikiran “mendarat” setelah pagi yang sibuk.

Kalau kamu mencari warung ndeso yang mengutamakan rasa bersih dan pengalaman makan tenang, Warung Kopi Klotok (Pakem) layak masuk daftar utama.