Kopi Borobudur & Roastery di Majaksingi: Ngopi dari Kebun Lereng Menoreh yang Diolah Sendiri

0
8
Ilustrasi segelas kopi hitam dan roti di meja kayu, gambaran ngopi di Kopi Borobudur & Roastery
Ilustrasi segelas kopi dan camilan. Foto bukan dari lokasi Kopi Borobudur & Roastery.

Sobat Senja, kebanyakan orang datang ke Borobudur untuk candinya, lalu mencari kopi di jalan utama. Padahal sekitar lima kilometer di selatan Candi Borobudur, di lereng Perbukitan Menoreh, ada pohon-pohon kopi yang dirawat warga dan diseduh di rumah pemiliknya sendiri. Tempat itu tercatat di Google Maps sebagai Kopi Borobudur & Roastery, di Dusun Kerugbatur, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur.

Hari ini MinCafe mau cerita soal tempat ngopi yang lebih dekat ke sumber kopinya. Bukan cafe di pinggir jalan besar, melainkan kedai di rumah tradisional yang menyajikan kopi dari kebun sekitar. Artikel ini merangkum cerita dan informasi dari laporan Kompas (25 November 2024), profil desa Eksotika Desa, dan listing Google Maps, jadi beberapa detail tetap perlu Sobat Senja konfirmasi sebelum berangkat.

Kisah Pak Ismoyo dan kebun kopi yang hampir terlupakan

Pemiliknya adalah Yulius Ismoyo, yang akrab disapa Pak Is, bersama istrinya, Theresia Winarni. Menurut Kompas, selama puluhan tahun tanaman kopi di perbukitan Menoreh sempat terbengkalai karena harganya kalah dari cengkeh dan vanili. Pada 2016, saat masih menjabat kepala dusun, Pak Is mulai merawat kembali pohon-pohon kopi itu. Alasannya sederhana tapi kuat: ia ingin warga punya alasan untuk tidak menjual tanah mereka.

Ia kemudian membentuk Kelompok Tani Kerug Mulyo dengan 30 anggota yang fokus mengembangkan kopi. Pada 2018, rumahnya yang masih berupa bangunan tradisional diubah menjadi kedai. Kompas mencatat, harga green bean dari dusun ini yang dulu sekitar Rp12.000 per kilogram kini bisa mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram. Setiap bulan, Pak Is mengolah sekitar 50–60 kg biji kopi, termasuk yang dipasok ke kafe di Magelang. Beberapa anak muda setempat juga belajar menjadi barista di kedainya.

Kopi robusta dan arabika dari lereng Menoreh

Kebun di sekitar Kerugbatur ditanami robusta dan arabika, dengan titik tertinggi dusun sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Menurut Kompas, petani mengandalkan pupuk kandang yang diolah, memetik buah kopi yang sudah merah, lalu menjemur dan menggilingnya sendiri. Eksotika Desa juga menyebut kopi yang diracik di kedai berasal dari panen kebun Pak Ismoyo sendiri.

Proses dari kebun sampai cangkir inilah yang membuat tempat ini berbeda. Sobat Senja minum kopi yang tumbuh tidak jauh dari meja tempat duduk. Untuk karakter rasa, penulis Kompas menggambarkan kopi yang ia cicipi kental dengan nuansa moka, tapi selera tiap orang tentu berbeda. Cara terbaik adalah bertanya langsung kopi apa yang sedang tersedia hari itu.

Ilustrasi pendopo kayu bergaya Jawa dengan meja makan di malam hari
Ilustrasi suasana pendopo kayu bergaya Jawa. Foto bukan dari lokasi kedai.

Apa yang bisa dinikmati di Kopi Borobudur & Roastery

Eksotika Desa menyebut menu kopi seperti cappuccino, espresso, dan cokelat, ditemani aneka gorengan. Kompas mencatat harga segelas kopi di kedai ini berkisar Rp10.000–18.000 pada akhir 2024. Angka itu bisa sudah berubah, jadi anggap sebagai gambaran saja.

Suasananya pun lain dari cafe kota. Kedai berada di rumah pemilik, dengan udara sejuk dan pemandangan Bukit Menoreh. Kompas menulis bahwa pengunjung dari Jerman, Belanda, Inggris, sampai Prancis pernah meninggalkan catatan di buku tamu, memuji sambutan hangat tuan rumah. Di listing Google Maps, tempat ini mendapat rating sekitar 4,8 dari kurang lebih 219 ulasan.

Lokasi dan rute: siapkan kendaraan dan mental

Ini bagian yang paling penting. Kompas menyebut titik di aplikasi peta kurang presisi, sementara jalurnya naik-turun bukit, menyusuri jalan sempit, dengan tikungan curam dan tajam. Kalau bingung, tanyakan “rumah Pak Ismoyo” kepada warga, karena menurut Kompas warga sekitar langsung bisa mengarahkan.

Artikel Rekomendasi  Cafe View Bukit Magelang untuk Liburan Akhir Tahun: Ortu Ngopi, Anak Main?

Beberapa tips sebelum berangkat:

  • Datang siang hari, saat jalan terlihat jelas. Hindari berangkat menjelang gelap.
  • Pastikan kendaraan dalam kondisi sehat, terutama rem dan ban. Motor matic yang bannya tipis perlu ekstra hati-hati.
  • Ada pengunjung yang menyarankan lewat arah Balkondes Kenalan. Rute ini belum kami pastikan sendiri, jadi tanyakan dulu ke pengelola lewat telepon.
  • Jangan tertukar dengan toko roastery bernama mirip di Jl. Cempaka, Kota Magelang. Itu tempat yang berbeda.

Sebelum datang: konfirmasi jam dan tarif tur kebun

Listing Google Maps mencantumkan jam buka 24 jam. Untuk kedai di rumah pemilik, informasi ini sebaiknya tidak ditelan mentah-mentah. Hubungi dulu nomor yang tercantum di listing, +62 852-9188-4166, untuk memastikan kedai sedang buka.

Satu hal lagi: ada ulasan pengunjung pada Juli 2025 yang kaget karena ditagih biaya “farm tour” sekitar Rp150.000. Kalau Sobat Senja ingin diajak melihat kebun, penjemuran, atau proses roasting, tanyakan dulu apakah ada tarif tur dan berapa besarnya sebelum mulai. Dengan begitu, kunjungan tetap nyaman untuk tamu maupun tuan rumah.

Ilustrasi deretan rumah kayu tradisional Jawa di pedesaan Magelang
Ilustrasi rumah kayu tradisional Jawa. Foto bukan dari lokasi kedai.

Etika berkunjung ke kedai di rumah warga

Karena kedai ini juga rumah tinggal pemiliknya, ada beberapa hal kecil yang membuat kunjungan terasa lebih hangat. Kabari dulu sebelum datang, apalagi kalau membawa rombongan, supaya tuan rumah bisa bersiap. Parkir kendaraan dengan rapi tanpa menghalangi jalan warga yang sempit. Jaga suara, karena halaman rumah ini menurut Kompas juga dipakai sebagai tempat warga berkumpul dan rapat dusun. Dan kalau sempat mengobrol dengan Pak Is atau keluarganya, tanyakan cerita kebunnya. Bagian itulah yang membuat secangkir kopi di sini terasa punya makna lebih.

Waktu terbaik datang adalah pagi menjelang siang atau siang hari di musim kemarau, saat jalan kering dan pemandangan lebih terbuka. Di musim hujan, jalan sempit dan menanjak bisa licin, jadi pertimbangkan ulang rencanamu bila hujan turun sejak pagi.

Membawa pulang biji kopi

Karena kopi di sini diolah sendiri dan sebagian dipasok ke kafe lain, wajar kalau Sobat Senja ingin membawa pulang biji atau bubuk kopinya. Ketersediaan dan harganya bisa berubah tergantung hasil panen, jadi tanyakan langsung di kedai jenis kopi yang sedang ada. Kalau ingin menyeduh di rumah, minta saran gilingan yang cocok untuk alat seduhmu.

Kalau Sobat Senja ingin membandingkan dengan tempat ngopi lain yang lebih mudah dijangkau, baca juga rekomendasi tempat ngopi di Borobudur dengan view alam yang sudah kami susun sebelumnya.

Secangkir kopi yang menjaga tanah

Kopi Borobudur & Roastery bukan tempat untuk mampir terburu-buru. Jalannya menantang, lokasinya tersembunyi, dan informasinya perlu dikonfirmasi. Tapi di balik itu ada cerita tentang petani yang memilih merawat kebun alih-alih melepas tanahnya. Kalau Sobat Senja siap dengan rute dan pertanyaannya, secangkir kopi di lereng Menoreh ini bisa jadi cerita perjalanan yang lain dari biasanya.