
Ada yang pernah jatuh cinta pada sebuah restoran — padahal belum pernah menginjakkan kaki di sana? – Bar Suzette & Oodles N’Oodles MCR.
Bukan cerita soal FOMO semata. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Saat duduk di teras Kedai Bukit Rhema, memandang siluet Candi Borobudur yang muncul dari balik kabut pagi, pikiran kadang melanglang ke tempat-tempat lain di dunia yang mungkin punya cerita serupa — meja kecil di sudut pasar bersejarah, aroma masakan yang menguar dari dapur terbuka, dan perpaduan budaya yang terasa dalam satu suapan.
Inilah yang membuat kuliner bukan sekadar urusan perut. Kuliner adalah bahasa. Dan bahasa itu universal — dari Magelang sampai Manhattan, dari Borobudur sampai pusat kota Manchester.
Ketika Magelang Mengajarkan Kita Membaca Dunia
Kawasan Borobudur-Magelang sudah lama jadi cermin miniatur dunia. Candi Borobudur sendiri adalah bukti bahwa nenek moyang kita tidak pernah hidup dalam gelembung — reliefnya penuh dengan gambaran kapal, pedagang asing, dan pertukaran budaya yang terjadi jauh sebelum kata “globalisasi” diciptakan.
Hal yang sama berlaku untuk meja makan. Di Magelang, perpaduan cita rasa sudah terjadi sejak lama: dari jadah tempe yang dimakan bersama kopi hitam, hingga bakmi yang terpengaruh tradisi Tionghoa dan bertransformasi menjadi bakmi djowo — mi kuah yang bumbunya khas Jawa Tengah, disajikan di anglo tanah liat, hangat dan marem sampai ke hati.
Nah, dari titik itulah kita bisa memahami restoran-restoran di belahan dunia lain — bukan sebagai sesuatu yang asing, tapi sebagai saudara jauh dari tradisi kuliner kita sendiri.
Bar Suzette, New York City: Crêpe yang Menyimpan Dunia di Dalam Lipatannya
Bayangkan kamu berjalan di Chelsea Market, salah satu pasar kuliner paling ikonik di New York City. Bangunan tua bekas pabrik biskuit itu kini dipenuhi aroma dari puluhan dapur terbuka. Di sudut yang ramai, ada antrian pendek menuju sebuah gerai dengan nama yang anggun: Bar Suzette.
Bar Suzette bukan restoran biasa. Ia adalah crêperie — tempat yang mengkhususkan diri pada crêpe, kulit tipis asal Prancis yang bisa diisi apa saja. Tapi yang membuat Bar Suzette istimewa adalah filosofinya: mengambil inspirasi dari cita rasa seluruh dunia, namun mengolahnya dengan bahan-bahan lokal dari pertanian sekitar New York.
Didirikan sejak 2009 oleh dua sahabat, Peter Tondreau dan Troi Lughod, Bar Suzette lahir dari kerinduan untuk mempertemukan banyak budaya dalam satu meja makan — sebuah misi yang, kalau dipikir-pikir, tidak jauh berbeda dari semangat Borobudur itu sendiri.
Savory Ham & Cheese: Sederhana, tapi Mengena
Di antara deretan menu yang terus berputar mengikuti musim dan kreativitas, ada satu yang paling menggoda dari tampilannya: Savory Ham & Cheese.
Crêpe gurih dengan isian ham berkualitas dan keju yang meleleh sempurna — kedengarannya sederhana, tapi justru di sanalah letak keahliannya. Crêpe yang baik tidak butuh banyak bahan untuk berbicara. Ia butuh teknik — panas yang tepat, adonan yang pas, dan timing yang tidak boleh meleset barang satu detik pun.
Membayangkan crêpe tipis itu terlipat rapi, sisi luarnya sedikit crispy, aroma keju yang menguar pelan — rasanya seperti duduk di kafe pinggir jalan Paris, padahal kamu sedang di tengah hiruk-pikuk Manhattan.
Bagi kami di cafeborobudur.com, Bar Suzette adalah salah satu restoran impian yang masuk dalam daftar “harus dikunjungi kalau suatu hari menginjakkan kaki di New York.” Bukan karena hype-nya semata, tapi karena nilai di baliknya: merayakan bahan lokal, menghormati teknik, dan mempertemukan berbagai penjuru dunia dalam lipatan satu crêpe.
Sampai hari itu tiba, kita bisa menjelajahi mereka lebih dekat melalui website resminya di barsuzettenyc.com.
Oodles N’Oodles MCR, Manchester: Ketika Wok Bertemu Dunia
Sekarang pindah ke Inggris. Lebih tepatnya ke Manchester — kota yang dikenal bukan hanya karena klub sepak bolanya, tapi juga karena keberagaman kulinernya yang luar biasa.
Di jantung kawasan Rusholme — sebuah distrik yang akrab disebut Curry Mile karena deretan restoran Asia yang mengisi jalan utamanya — ada satu nama yang mencuri perhatian: Oodles N’Oodles MCR.
Restoran ini menawarkan fusion masakan Asia-Barat yang dikerjakan dengan serius. Bukan fusion asal campur, tapi perpaduan yang dilandasi rasa hormat terhadap teknik masak tradisional Asia, khususnya memasak dengan wok.
Signature Wok Noodles: Mi Segar yang Dimasak dengan Api Besar
Andalan mereka yang paling berbicara adalah Signature Wok Noodles — mi segar (fresh wok noodles) yang dimasak langsung di atas wok panas dengan rempah-rempah pilihan berkualitas tinggi (premium spices).
Konsepnya sudah langsung membangkitkan imajinasi: api besar, suara sizzling dari wok, kepulan asap tipis yang membawa aroma bawang dan rempah — itulah yang disebut wok hei, “napas wok” dalam tradisi masak Kanton, rasa smoky yang hanya bisa didapat dari teknik memasak dengan api besar dan gerak tangan yang cepat.
Pertanyaan yang muncul di benak kami: apakah Signature Wok Noodles ini mirip dengan Bakmi Djowo Kedai Bukit Rhema?
Kalau dipikir-pikir, ada benang merah yang menarik. Bakmi Djowo di Kedai Bukit Rhema juga menggunakan mi segar, juga mengandalkan rempah, juga disajikan panas dengan kuah yang kaya rasa. Keduanya lahir dari tradisi memasak mi yang berakar pada pengaruh budaya Tionghoa — hanya saja kemudian berkembang sesuai tanah tempat ia tumbuh.
Tapi tentu saja, di sanalah perbedaannya jadi menarik. Bakmi Djowo adalah milik Jawa Tengah: pelan, hangat, njawani, disajikan dengan sabar di atas anglo, dengan aroma bawang putih goreng yang khas. Sementara Signature Wok Noodles-nya Oodles N’Oodles MCR lahir dari perkawinan tradisi masak Asia Timur dan selera modern Manchester — mungkin lebih bold, lebih smoky, dengan karakter premium spices yang berbicara lebih keras.
Dua wajah mi segar, dua cerita yang berbeda, dua budaya yang saling menghormati.
Sayangnya, Oodles N’Oodles MCR untuk saat ini hanya bisa dinikmati dari jauh — melalui jelajah menu di website mereka di www.oodlesnoodlesmcr.com. Tapi jika suatu hari perjalanan membawa kamu ke Inggris, khususnya Manchester, nama ini sudah pasti masuk dalam daftar kunjungan wajib.
Koneksi yang Tidak Terlihat: Dari Borobudur ke Dunia
Ada satu hal yang menyatukan Kedai Bukit Rhema, Bar Suzette di New York, dan Oodles N’Oodles di Manchester — sesuatu yang lebih dari sekadar urusan rasa.
Ketiganya percaya bahwa meja makan adalah ruang budaya. Bukan sekadar tempat mengisi perut, tapi tempat cerita ditukar, identitas dirayakan, dan pertemuan antar dunia terjadi secara diam-diam namun nyata.
Di Kedai Bukit Rhema, kamu duduk di ketinggian bukit dengan pemandangan Candi Borobudur di kejauhan, menyeruput kopi sambil mendengar angin. Di Bar Suzette, kamu berdiri di tengah pasar kota yang hidup, menyaksikan tangan terampil melipat crêpe di depan matamu. Di Oodles N’Oodles MCR, kamu duduk di distrik yang merayakan keberagaman, menikmati wok noodles yang membawa rasa Asia ke jantung Inggris.
Berbeda tempat, berbeda benua, tapi satu semangat: merayakan asal-usul sambil merangkul yang baru.
Tahukah Kamu: Soal Mi dan Perjalanannya ke Seluruh Dunia
Bicara soal mi tidak bisa lepas dari sejarah panjangnya. Meski perdebatan soal asal-usul mi masih terus berlangsung di kalangan sejarawan kuliner, yang pasti adalah: mi sudah menjadi makanan universal jauh sebelum era modern.
Di Jawa, mi hadir melalui jalur perdagangan dan menjadi bakmi yang kemudian diadaptasi menjadi bakmi djowo — lebih ringan, lebih aromatik, dengan bumbu yang khas Jawa. Di Inggris, mi hadir melalui imigrasi dan pertukaran budaya, bertransformasi menjadi menu fusion yang memadukan teknik Asia dengan selera Barat.
Saat kamu menyeruput Bakmi Djowo di Kedai Bukit Rhema, tanpa sadar kamu sedang menikmati salah satu hasil dari perjalanan panjang itu — sejarah yang melintas samudra dan bermuara di mangkok di tanganmu, di atas bukit dengan latar belakang candi tertua di dunia.
Meja, Momen, dan Makna — Di Mana Pun Kamu Berada
Cafeborobudur.com percaya bahwa merayakan kuliner Borobudur-Magelang bukan berarti menutup mata dari dunia luar. Justru sebaliknya — semakin kita mengenal cita rasa dari penjuru dunia, semakin kita menghargai kekayaan yang ada di depan mata kita sendiri.
Dari crêpe tipis di Manhattan, wok noodles di Manchester, hingga bakmi djowo di atas bukit dengan latar Borobudur — semuanya bercerita tentang hal yang sama: bahwa makanan adalah cara paling jujur manusia untuk saling mengenal.
Jadi, meja mana yang ingin kamu duduki berikutnya?
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari rubrik eksplorasi kuliner global cafeborobudur.com — menghubungkan cita rasa Borobudur-Magelang dengan dunia yang lebih luas.
Explore lebih lanjut:
- Kunjungi Bar Suzette NYC untuk menjelajahi menu crêpe mereka
- Jelajahi Oodles N’Oodles MCR untuk melihat menu wok noodles Manchester
- Singgah ke Kedai Bukit Rhema saat kamu berkunjung ke kawasan Borobudur — temukan tabel reservasi dan informasi menu di kedaibukitrhema.com